Usopp’s Great Adventure : Chapter 0

0

“Ada bajak laut datang, ada bajak laut datang, ada bajak laut datang.” suara itu selalu menggema setiap pagi.

Terkadang aku terenyuh rindu, merangkul lututku menjernihkan pikir, sedang apa dia sekarang? Apakah dia masih sama, atau sudah menjadi seseorang yang berbeda?

Selepas kepergiannya aku dan dua sahabatku menjaga nona Kaya. Dia adalah orang yang paling merindukan sosoknya, namun selalu tersenyum kepada kami. Nona Kaya telah menjadi dokter yang hebat. Dia berhasil meraih mimpinya. Setiap pagi, di menatap jendela kamarnya, melihat kearah cabang pohon yang menua. Sekilas teringat oleh Nona Kaya sosoknya yang periang, yang heboh penuh kebohongan, namun hangat dan menyenangkan. Namun sesaat sadar menghampiri, sosok itu memudar terkena bias mentari.

Beberapa bulan setelah kepergiannya, lautan dihebohkan. Sebuah tragedi besar telah terjadi, tentang sekelompok pemula yang menantang pemerintah dunia. Para warga desa heboh ketakutan. Kucari kesempatan untuk melihat isi koran itu. Aku terperanjat kaget luar biasa, sesak napasku antara bahagia dan tidak percaya.

Mugiwara menantang Dunia!

Beberapa lembar poster buronan menemani koran itu. Kulihat Luffy, Zoro, dan Nami ada di sana. Juga ada beberapa orang yang tak aku kenal, seperti Robin, Chopper dan Franky. Ada satu sosok yang menggangguku. Tanpa pikir panjang aku berlari ke markas rahasia, dan ternyata kedua temanku juga telah berada di sana.

“Hey, Minna, be.. berita besar, berita besar!” teriakku sambil berlari.

“Ooy, Tamanegi, tenanglah sedikit.” ucap kawanku Piiman.

“Ga..wat.. ka..ka..kapten.. kapten..”

“Hoy, tenanglah, ini.. minum dulu.” Ninjin menenangkanku.

“Gawat, Kapten. Kapten jadi buronan.” ungkapku.

“Ha? Kapten? Buronan? HAHAHAHAHAHA, kau baru bangun tidur ya? Kau pasti bermimpi.” ejek mereka tak percaya.

“Ini serius! Lihat, baca koran ini!” kutunjukkan padanya sumber beritanya.

“Mu..gi..wa..ra, me..nan..tang..du..ni..a, Mugiwara menantang dunia?” kaget Ninjin.

“Mereka bertanggung jawab atas kehancuran Enies Loby! Hebat bukan?” ucapku.

“Mugiwara itu? Apakah benar Mugiwara yang itu?” tanya Piiman.

“Tentu saja, lihat!” kutunjukkan poster buronan mereka.

“Woaaaa kereeen. Waa mereka benar-benar telah menjadi bajak laut sungguhan.” respon mereka berdua.

“Pastilah, bodoh! Luffy sudah pernah mendapat buronan seharga 30 juta dan 100 juta. Zoro juga mendapat buronan 60 juta. Dan di poster itu ada foto kapten.” kataku dengan bangga.

“Lihat? Monkey D Luffy, 300 juta, Zoro 120 juta, Nami 16 juta, waaah mereka hebat!” kata Ninjin terkagum-kagum.

“Robin? Chopper? Franky? Siapa mereka? Dan lagi, mana kapten? Katamu kapten jadi buronan?” tanya Piiman.

“Taraaaaa, lihat ini.” kataku sambil mengeluarkan poster terakhir.

“So..ge..king? Siapa dia?” tanya Piiman.

“Lihat hidungnya, hihihihi.” jawabku cengengesan.

“Jangan-jangan?” Ninjin mulai sadar.

“Waaaaaaa… kapten, pasti dia, pasti dia! Sogeking ini pasti dia, lihat hidungnya.” sambung Ninjin kegirangan.

“Tatatatata tapi, tapi… 30juta? Apa ini nyata? Kapten adalah buronan seharga 30 juta? Tidak bisa dipercaya.” respon Piiman.

“Bodoh, tentu saja ini kapten. Sudah pasti itu. Mungkin nilainya terlalu kecil, tapi ini jelas kapten.” jawabku.

“Bukan begitu, justru kupikir ini terlalu besar untuknya. Lagipula dia pakai topeng.” sanggah Piiman.

Kami sejenak terdiam, merenung dan mengingat sosok kapten kami. Lalu kami lemas seketika dan tidak percaya. Untuk memastikannya, kami akhirnya pergi bertemu Nona Kaya, karena kalau dia pasti tahu kebenarannya. Lagipula dia adalah orang yang sangat peka untuk hal-hal berbau kapten. Sesampainya di tempat kami tanpa basa-basi langsung menanyakannya.

“Nona Kaya, apakah kau sudah membaca koran pagi ini?” tanyaku.

“Hm.. koran? Oh yang itu? Kuharap Luffy san dan semuanya baik-baik saja.”  jawabnya.

“Kalau gitu, sudah lihat poster buronan mereka?” lanjutku bertanya.

“Poster? Memangnya ada hal–hal seperti itu juga?” tanyanya bingung.

“Hm.. sudah kuduga. Merry san tidak mungkin memperlihatkanmu hal-hal seperti ini. Apa boleh buat, lihat ini.” jawabku sambil menunjukan poster Sogeking padanya.

“Haa… itu dia, itu dia, dia pakai topeng, syukurlah dia baik – baik saja.” responnya bahagia sambil memeluk poster itu.

“Benar kan? Itu Kapten kan?” serempak kami bertanya.

“Tidak salah lagi, ini dia. Akhirnya aku bisa melihatnya meski di poster.” jawabnya kegirangan.

“Sudah kuduga, Nona Kaya memang peka sekali.” kata Ninjin.

“Tapi, kurasa warga desa tidak akan percaya.” sambung Piiman.

“Tidak apa-apa. Lagipula kapten meminta kita merahasiakan perjuangannya. Dan lagi kapten adalah orang yang bebas.” jawabku.

“Kalau begitu, aku akan melanjutkan belajar kedokteranku. Kalau-kalau dia pulang, aku jadi bisa merawatnya.” kata Nona Kaya seraya pergi dengan senyum indahnya.

“Ah… kapten.. aku iri.. kau punya wanita cantik yang tulus mencintaimu…” teriak Piiman.

“Eh? Ada apa? Cinta? Aku? Eh.. eh.. anu.. gini.. anu..” Nona Kaya menoleh dengan wajah memerah.

“Hus, Piiman, Ninjin.. ssstt.” kataku sambil memberi isyarat untuk diam.

“Kalian bertiga.. ssstt… ra.ha.si.a, oke?” kata Nona Kaya sambil meletakan 1 telunjuk dibibirnya dan mengedipkan mata kanannya.

“Hai… Maafkan kami, sssst.. hahahaha.” respon kami, disambut gelak tawa semuanya.

Sejak kejadian hari itu, kami merahasiakan keberhasilan kapten, hingga berita duka tentang menghilangnya “Mugiwara” mendunia. Juga tentang perang besar yang memupuskan kakak Luffy. Kami semua terpukul, terlebih kami tidak bisa menemukan berita apapun menyangkut keadaan kapten kami. Nona Kaya sangat terpukul, tapi tidak pernah lupa untuk tersenyum dihadapan kami. Kami tahu, bahwa hatinya pasti hancur, dan amat khawatir akan keadaan kapten. Namun kami tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap, kapten baik-baik saja.

 

Usopp’s Great Adventure : Chapter 0

by Usopp. Admin ONE PIECE INDONESIA

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World