Theoview One Piece Chapter 853: Membelah Jiwa

0

Yay, dosis mingguan kita telah tiba. Seminggu tanpa gelinjang sesuntik chapter One Piece kurang lengkap rasanya^^

Chapter minggu ini masih seperti chapter-chapter minggu lalu : temponya cepat, berisi, dan tidak tertebak arahnya. Cerita One Piece mencapai titik kulminasinya saat berada di saat-saat seperti ini. Pembaca dibuat penasaran.

Berawal dari perkenalan tiga ‘soul-mate’ Big Mom – dalam arti sebenarnya—yaitu Zeus, Prometheus, dan si topi-tricorne-berlambang-tengkorak-yang-matanya-bisa-melirik yang saya lupa namanya. Kita sudah tahu apa kekuatan Zeus dan Prometheus. Namun si tricorne, sudah pernah disebut belum, ya? Saya lupa.

Yang jelas, keberadaan mereka bertiga mengingatkan saya ke konsep sihir di novel Harry Potter bernama “horcrux”. Horcrux adalah semacam sihir terlarang yang cara kerjanya adalah membelah jiwa kita –dalam arti sebenarnya– menjadi beberapa keping, lalu kepingan-kepingan jiwa itu ditempatkan pada benda-benda mati. Benda-benda mati itu pun jadi ‘hidup’.

Tujuan horcrux adalah meraih keabadian. Dengan membelah jiwa jadi banyak, kamu tidak akan bisa dibunuh kecuali seluruh kepingan jiwamu telah dibunuh.

Misalkan, kamu belah jiwamu jadi dua, lalu kepingan jiwamu diletakkan di teko teh kesayanganmu. Kemudian, seorang pembunuh bayaran datang ke rumah dan menembakmu tepat di kepala. Kamu tidak akan mati. Kamu baru akan mati kalau si pembunuh juga menghabisi jiwa yang ada di teko the kesayanganmu.

Di novel Harry Potter, satu-satunya yang pernah melakukan sihir horcrux adalah Voldemort. Dia belah jiwanya jadi tujuh. Lalu jiwa-jiwa itu ditempatkannya pada bermacam-macam barang, dari buku harian, mahkota, piala, kalung berlian, hingga ular sanca/piton kesayangannya.

Ekstrim sekali, ya. Apa alasan Voldemort? Yah, apalagi kalau bukan takut mati. Alasan yang menyedihkan sebetulnya. Untung dia hanya tokoh fiksi, jadi karakternya tidak bisa diganggu gugat. Kalau orang sungguhan, selalu ada ruang untuk berkembang dan mencari tahu makna di balik kematian.

Nah, balik lagi ke Big Mom.

Si Zeus, Prometheus, dan topi tricorne bisa hidup berkat konsep yang mirip dengan horcrux. Jadi, mereka bertiga adalah pecahan langsung jiwa Big Mom. Bisa dibilang, mereka bertiga adalah Big Mom itu sendiri. Kalau ingin menghabisi Big Mom, kamu harus menghabisi jiwa Big Mom DAN mereka bertiga. Itu yang saya tangkap.

Secara teknis, Big Mom memang bisa hidup abadi. Bahkan bisa jadiumurnya sudah sangat tua. Entah 100 tahun, 200 tahun, atau bahkan lebih dari itu. Kekuatan yang mengerikan.

“Kekuatan Mendengar Suara Segala Sesuatu”

Pucuk dicinta, AKHIRNYA kekuatan ini dibahas lagi. Terakhir chapter 507, berarti sudah 346 chapter yang lalu atau Sekitar 7-8 tahun yang lalu di dunia nyata.

Dikatakan bahwa dulu Big Mom pernah kecolongan. Roger pernah mencuri informasi poneglyph yang dimilikinya dengan kekuatan ‘mendengar segala sesuatu’.

Setidaknya, ada dua informasi yang cukup menarik di sini.

Informasi pertama adalah dari pencurian Roger terjadi antara rentang waktu 25-28 tahun lalu. Soalnya, Roger aktif di Grandline sekitar tahun-tahun itu (berdasarkan cerita Rayleigh di chapter 507).

Tahukah apa yang menarik? Yaitu fakta bahwa Big Mom sudah punya poneglyph dari 25-28 tahun yang lalu, tetapi sampai sekarang belum sampai Raftel!!! Ahahaha. Yang benar saja. Duh, ngapain aja si ibu tambun ini ya. Niat nggak sih ke Raftel?

Namun, alasannya bisa ditebak sih. Dia kemungkinan tidak punya kru yang bisa baca poneglyph. Jadi, mau sampai kiamat sekali pun, tidak akan bisa ke Raftel. Ini masih teori lho. Untuk kepastiannya, kita tunggu penjelasan Oda.

Informasi kedua adalah tak lain dan tak bukan, kekuatan ‘mendengar segala sesuatu’ itu sendiri. Kekuatan tersebut memungkinkan Roger untuk mencuri informasi poneglyph dari Big Mom dengan mudah.

Nah, apa sebenarnya ‘mendengar suara segala sesuatu’?

Pertanyaan ini nggak pernah ada habisnya. Fanpage ini juga sudah membahasnya puluhan kali dari berbagai macam sudut pandang. Dari yang ilmiah sampai agama. Namun, kali ini saya coba membahasnya lagi dari sudut pandang yang paling sederhana, yaitu dari segi bahasa. Kita coba.

‘Mendengar suara segala sesuatu’ bisa dibagi menjadi dua frase, yaitu ‘mendengar suara’ dan ‘segala sesuatu’.

‘Mendengar suara’ adalah “menangkap bunyi suara dengan telinga”.

Sedangkan ‘segala sesuatu’ adalah… ya SEGALA sesuatu. APA PUN yang kamu tahu dan tidak tahu, itulah segala sesuatu.

Jadi, ‘mendengar suara segala sesuatu’ bisa diartikan “menangkap bunyi suara segala sesuatu dengan telinga”.

Masuk akal? Tidak.

Namun, tak apa. Ingat slogan klasik kita : One Piece itu nggak masuk akal, tetapi akal bisa masuk. Pegang teguh itu dulu, Ok? Kalau sudah, lanjut.

Definisi tadi tidak masuk akal karena tidak semua hal atau segala sesuatu mengeluarkan suara. Pernah dengar tangan kamu mengeluarkan suara? Kalau saya alhamdulillah belum pernah. Bisa-bisa nggak pernah bisa tidur saya.

Namun, bagi Roger, itu bisa saja terjadi.

Bahkan, bukan cuma tangannya. Matanya, kakinya, rambutnya, jubahnya, batu-batu kerikil di sekitarnya , rerumputan,pohon, awan, matahari, baut, pedang, pistol kapal, laut, jangkar, tambang kapal, barrel, peta harta karun, pelabuhan, pulau, dan segala sesuatu yang ada di dunia ini, mereka semua mengeluarkan suara-suara yang bisa dimengerti Roger.

Duh, dunia ini berisik sekali bagi Roger dong? SEMUANYA bersuara lho.

Namun, secara bahasa, penjelasan paling logis ya seperti itu. Tidak ada yang lain.

Nah, tentu saja, segala sesuatu juga mencakup poneglyph. Batu prasasti yang tidak bisa dihancurkan itu mengeluarkan suara, bahkan ‘berbicara’ dengan Roger.

Untuk itu, Roger tidak perlu berada di depan poneglyph untuk mendengar suaranya. Dia bisa saja berada di luar kastil Big Mom yang jaraknya puluhan meter dari lokasi poneglyph. Namun, dengan sedikit konsentrasi, Roger bisa meredam semua suara di sekitarnya, lalu fokus pada suara yang dikeluarkan poneglyph dari kejauhan.

Bagi roger, poneglyph bukanlah batu lagi, tetapi seperti seseorang yang hidup selama ratusan tahun dan punya banyak kisah untuk diceritakan. Terutama kisah tentang Abad Hampa. Maka, batu itu pun mulai bercerita dan Roger mendengarkannya. Aman, Big Mom tidak menyadarinya.

Kemungkinan, dengan cara yang sama, Roger berhasil menemukan lokasi poneglyph Lonceng Emas yang letaknya jauh dari jangkauan.

Teorinya seperti itu.

“Kopian Poneglyph”

Brook tertangkap tanpa sempat membuat kopian poneglyph. Eh, tapi mungkin tidak sih, kopiannya disimpan di dalam tengkoraknya? Kan bisa dibuka tutup tuh?

Entahlah, sepertinya sulit. Soalnya kopian Poneglyph pastinya berukuran cukup besar. Itu terlihat dari bungkus berbentuk silinder yang dibawa Brook. Itu mirip dengan tas yang biasa dibawa-bawa arsitek untuk menympan kertas-kertas berukuran besar dan sejenisnya.

Namun kalau Brook gagal, masih ada alternatif lain kok. Ya, apalagi kalau bukan kekuatan ‘mendengar’ milik Luffy pribadi. Luffy juga punya kekuatan seperti Roger (Silahkan lihat lagi chapter 640-650-an, disana Sea King bilang kekuatan mendengar Luffy mirip dengan Roger).

Hanya soal waktu sebelum Luffy mengaktifkan kekuatannya tersebut dan memanfaatkannya. Dan sekarang adalah momen yang sangat tepat untuk itu. Tinggal kita tunggu, apakah Oda akan mengeksekusinya ke arah sana..

Sementara itu, Sanji masih dirundung dilema. Namun konklusinya semakin terlihat kok. Yang penting Sanji dan Luffy ketemu dulu deh. Biar tidak ada salah paham.

Salut juga buat Luffy yang benar-benar fokus pada tujuannya menyelamatkan Sanji. Tidak terdistraksi sedikit pun. Sampai-sampai dia sanggup mengabaikan Reiju yang seksi setengah mati tanpa celana dan pahanya terbalut perban (Antara salut atau agak khawatir sebenarnya).

Ya, sudahlah. Go Luffy! Kita tunggu perjuanganmu di chapter berikutnya.

 

Theoview One Piece Chapter 853: Membelah Jiwa oleh Rokushiki Master

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World