Theoreview One Piece Chapter 844

0

PART I: THE ONE AND ONLY

Tanpamu, aku tak akan pernah bisa menjadi Raja Bajak Laut!

Sebuah akhir yang indah, sangat indah. Sebuah kata-kata menyayat hati, menebar pilu dan membuat empati bekerja lebih keras dari biasanya. Chapter yang di bungkus dengan indah.

4-5 chapter sebelumnya, panel tiap halaman banyak diisi oleh percakapan yang membosankan, sekiranya begitu yang kebanyakan orang pikirkan. Pernyataan itu betul adanya. Kita tidak menampik pesan apapun dalam chapter belakangan. Tidak ada yang bisa mengira kata-kata “Aku tidak mau bertemu denganmu lagi, Luffy!” Akan ada secepat ini. Tidak.

Sanji keluar dari kru. Setidaknya itulah yang terjadi dan akan terjadi kelak. Itu faktanya.

Namun, yakinlah, nakama, bahwa surat Sanji untuk rekan-rekan lain yang dia tinggal kan di Zou adalah bukti yang lebih dari cukup bahwa dia akan kembali setelah urusannya selesai. Entah kapan itu, namun dia akan kembali. Pasti!

Mungkin saat pertama kali dia tau ide pernikahan ini, dia kaget. Itu pasti. Siapa yang tidak kaget? Ayahnya terang-terangan bilang kalau dia akan melupakan punya anak bernama Vinsmoke Sanji. Dan Sanji pun nampaknya tidak mau dan masa bodo dengan apa yang terjadi padanya di masa lalu. Fokusnya sekarang adalah menemukan All Blue berbarengan dengan menggiring Luffy ke singgasana raja.

Mungkin dia kaget dan mungkin juga dia berfikir simple. Gampanglah, dia tinggal nego sama bapaknya. Ayahnyalah yang membuatnya menghadapi hidup dengan keras. Dia yakin pasti bisa meyakinkan ayahnya untuk mengurungkan niatnya.

Tapi tidak. Vinsmoke Jajji berhasrat menguasai wilayah Utara. Dan itu sekarang! Dia sangat bernafsu dan sisa sisa pasukan Germa sekarang hanyalah seonggok boneka yang diciptakan di laboratorium. Mereka tak terkalahkan, itu betul. Namun sangat vital sekali jika musuh mengetahui rahasia Germa dalam mengembangkan prajurit buatan. Vital! Dia membutuhkan tangan kedua supaya hasratnya tercapai.

Kebetulan, Mama punya hal itu. Mama sendiri nampaknya tertarik dengan teknologi perang Germa yang mutakhir. Terciptalah sebuah pernikahan politik demi keuntungan para orang tua.

Kenapa Sanji? Kenapa gak Reiju, Ichiji, Niji, atau Yonji aja?

PART II: THE POLITICAL MARRIAGE

Kenapa Sanji yang terpilih menjadi pengantin Purin dan menantu Big Mom, salah satu dari Empat Emperor lautan? Kenapa bukan Niji dan Ichiji? Atau kenapa bukan Yonji si bungsu?

Mungkin terlewat bagi nakama semua bahwa Jajji menganggap Sanji tidak lain hanya sebagai alat. Sebagai alat, Jajji merasa Sanji adalah cara yang tepat karena menyandang nama Vinsmoke. Mau tidak mau, Sanji tetaplah berdarah Vinsmoke, sekejam apapun masa lalunya.

Sebagaimana alat, mereka hanya digunakan hanya untuk kepentingan si empunya alat itu. Well, yang kita bicarakan adalah seorang manusia lho, hasil rekayasa genetika atau tidak, Sanji tetaplah manusia.

Sementara Vinsmoke Ranger yang lain di-dewa-kan oleh Jajji karena mereka di anggap keturunan paling sukses dan Vinsmoke sejati, Sanji tidak di anggap seperti itu. Dialah Sanji, si putera kembar nomor tiga, si gagal, si aib keluarga, si alat kekuasaan Jajji untuk menguasai North Blue seperti yang dia idamkan dulu. Sudah sepatutnya alat digunakan dengan baik, begitu menurut Jajji.

Kejam? Ya, itulah Vinsmoke dan Germa sialannya. Mereka melewati batas perikemanusiaan, menyingkirkan nilai moral keluarga semi kepentingan pribadi. Sungguh mulia, si Jajji.

Sanji, bagaimanapun dia bertingkah, tidak bisa berbuat kelewat batas. Dia memiliki resiko kehilangan segalanya. Dia bisa kehilangan tangannya, mentornya, dan rekan-rekan yang tidak menertawakan mimpinya menemukan lautan legenda. Dia tidak bisa berbuat seenaknya sesuka hati dimana nyawa orang-orang terdekatnya sudah sangat dekat dengan pisau jagal. Tidak.

Sanji cerdas, dia tidak pintar seperti Robin, tidak bisa melihat keanehan alam sekecil apapun, tidak bisa berbohong seenak jidat, tidak bisa jujur seenaknya juga, tidak sembrono, dia juga tidak bisa terang-terangan bilang kalau dia bakalan menyabotase pesta teh. Tidak, dia cerdas dan mahir memanfaatkan situasi.

Sanji menekan tombol panik dalam dirinya. Membuat rencana gegabah nan cemerlang. Sebuah rencana yang mungkin dia sadari tepat setelah dia kaget Luffy datang. Rencana gila nan bahlul, rencana yang kalau gagal bisa membuat lautan bergejolak dan dunianya dalam bahaya.

PART III: TIME TO LEAVE?

Apa yang akan terjadi jika Sanji benar-benar meninggalkan kru? Dengan alasan mulia tentu saja. Apa yang terjadi?

Dunia manga bergejolak, itu pasti. Oda akan siap di tinggal penggemar karena Sanji adalah karakter sentral di Mugiwara.

Lihat yang dia perbuat, Minna! Saat yang lain kesulitan menghadang Marine, dia membuka Gerbang Keadilan! Dia mengambil alih komando separuh Mugiwara Crew di pantai Dressrosa untuk melawan balik kru Big Mom! Saat yang lain sibuk menghindari Aqua Laguna, dia mengejar kereta api laut untuk menyelamatkan Robin! Dia menipu Crocodile di Litle Garden dan mengaku bernama Mr. Prince demi mendapatkan info saat yg lain punya pertarungannya masing-masing.

Jika bukan karena Luffy dan keegoisannya, Sanji tidak akan menangis di atas kereta Kucing Germa. Kalau Sanji tidak memikirkan dan mengkhawatirkan rekan-rekannya, dia sudah kabur dan mengalahkan Bege saat mereka bertemu pertama kali. Bege tentu lawan yang mudah bagi Sanji.

Sanji melakukan hal di chapter 844 karena dia ingin mengemban beban beratnya sendirian.

Tapi itu juga tidak tepat.

Jika melihat aksi Sanji yang tadi Mimin jabarkan, rasanya aneh kalau Sanji berbuat seperti itu tanpa adanya muslihat khas Sanji. Betul? Mungkin aja!

Menurut Robin, sejarah akan selalu berulang (dari Rokushiki). Itu benar, sepertinya. Jika melihat pola Sanji, dia membuat rencana dadakan sesaat setelah Luffy datang.

Dia ingin bilang “Luffy, pergi dari sini, aku akan melakukan sesuatu!” Mungkin dia akan bilang itu. Tapi dia gak bisa bilang itu, tidak disaat Luffy dikelilingi bahaya! Tidak di saat Zeff juga terancam! Tidak.

Dia membuat rencana seperti yang pernah dilakukan Robin dulu sekali, 2 tahun lalu di Water 7! Dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nami dulu sekali di Cocoyashi.

Dan dia berharap, siapapun, mengerti kode itu. Dia ingin siapapun rekannya mengerti kode dari kata-kata di halaman 3 panel paling atas.

Dia bilang “Aku tahu sulit rasanya menerima semua kenyataan ini, jadi aku akan membuat tubuhmu merasakan pahitnya perasaan itu!” Dan, begitulah cara Luffy biar mengerti, melalui pertarungan.

Apa yang sebetulnya Sanji ingin sampaikan ke Luffy?

PART IV: TIME TO SAY GOODBYE

Bayangkan, jika Luffy pintar, peka terhadap suatu masalah dan gak seenaknya sendiri. Apa jadinya?

Luffy gak akan ke Whole Cake Island (WCI) untuk Sanji. Dia bakal langsung ke Wano buat hajar Kaido. Biar Sanji menyelesaikan urusannya sendiri. Dia yang bilang di surat kok, dia akan balik lagi. Entah kapan, tapi pasti balik ketika urusannya kelar.

Beruntunglah Luffy orang yang egois, bodoh, gak peka, tukang makan, dan nekad. Karena sifat di atas, Luffy nekad dan keegoisannya tingkat dewa, dia ke WCI untuk menjemput Sanji, walau Sanji tidak minta.

Tapi situasi menjadi makin runyam. Setelah borgol bom, ancaman Zeff, situasi makin runyam. Sanji butuh dukungan orang lain.

Tak disangka, Luffy lari dari dalam hutan bersama Baum setelah selamat lawan Cracker. Tak disangka, dukungan dadakan itu tiba secepat ini. Sanji harus bertindak. Kalau tidak, Luffy akan mati, hal yang tidak Sanji inginkan.

Dia ingin menyadarkan Luffy kalau “bukan SEKARANG. Lu kecapean, kapten!” Tapi dia gak tau harus bilang apa biar Luffy sadar! Luffy bodohnya gak main-main. Dia super idiot yang cuma tau makan dan pertarungan!

Pertarungan! Itulah cara menyadarkannya! Dia akan sadar melalui pertarungan! Dia pasti tau.

Buktinya Luffy gak membalas ketika tendangan pertama. Karena luffy sadar, dan Luffy teriak kalau yang sebetulnya sakit adalah hati Sanji, bukan badan Luffy.

Itu pesan yg ingin Sanji sampaikan. Ribet, penuh muslihat, namun tepat sasaran.

Dan chapter diakhiri dengan sangat indah. Luar biasa Oda, terima kasih.

Bangsawan muda berkelut melawan takdir gelap, hantu masa lalu menghantui hingga kini.

Berselimut nestapa dunia, dia bergerak tidak bebas dalam sangkar emas Sang Iblis Perang.

Genderang perang hampir berbunyi, menahan pemukulnya tepat di atas genderang, menyisakan pilu bagi orang-orang gila di atas Pulau Kue dari neraka.

Angin jahat pembawa kepedihan, bawalah kegelisahan hatinya ke ujung jalan tempat cahaya menghilang, sisakan sedikit cahaya agar sang pangeran kembali menuju jalannya.

Semua berakhir, dalam genggaman Sang Waktu yang tercabik usang tak berdarah.

Hanya waktu yang tak tersentuh maut, dalam tempat mimpi buruk saling bertaut.

Salam,

Miminwara.

Theoreview One Piece Chapter 844 oleh Miminwara

Admin Indo One Piece Forum

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World