Review dan Pembahasan One Piece Chapter 844 – Luffy vs Sanji

0

Seorang sahabat akan mengetahui ketika kalian berbohong kepadanya….

~~ Duel ~~

Jarang sekali kita mendapatkan chapter One Piece yang hanya menceritakan satu kejadian saja sepanjang chapter. Sudah biasa kita melompat kesana kemari untuk mendapatkan gambaran apa yang terjadi di berbagai sisi cerita. Entah itu saat pembangunan cerita di awal-awal arc bahkan ketika cerita memasuki puncaknya. Paling banter kita mendapatkan cerita tanpa berpindah-pindah tempat adalah ketika kilas balik dan pertarungan puncak Luffy dengan antagonis utama. Tapi di chapter ini kita mendapatkannya, dengan fokus utama menyorot hubungan koki mesum dan kaptennya.

Berbicara soal pertarungan Luffy melawan anggota kru Topi Jerami, tentu ini bukan kali pertama terjadi. Kita semua tahu bahwa kenangan Luffy bersama kru-nya tak hanya diisi oleh kenangan indah, tapi ada juga kegelapan disana.

Pulau Whiskey Peak, pulau pertama kru Topi Jerami di Grand Line menampilkan pertarungan antara 2 monster dari East Blue.

Luffy vs Zoro.

Pertarungan serius yang kemudian menimbulkan beberapa korban luka-luka (Mr. 5 dan Ms. Valentine) ini disebabkan oleh salah paham semata. Untung saja ada Nami yang bertindak cepat untuk menghentikan pertarungan ini, jika tidak – mungkin saja Luffy akan menyesal kehilangan kru pertamanya hanya karena salah paham.

Lalu di kota air Water 7, Luffy sempat melawan 2 orang berbeda yang sekarang mereka menjadi bagian dari kelompok Topi Jerami.

Franky, yang saat itu masih menjabat sebagai bos gelap pelindung kota Water 7 bertarung dengan Luffy karena masalah uang, rumah, dan juga anak buah. Sayang, lagi-lagi pertarungan ini tak selesai karena ada intervensi dari para tukang kayu Galley-la Company.

Namun pertarungan Luffy yang paling diingat tentu saja pertarungannya dengan Usopp untuk memperebutkan Going Merry. Usopp yang karena satu hal dan hal lain memutuskan keluar dari Topi Jerami, menantang Luffy untuk berduel. Meski sempat unggul di awal pertarungan, ia harus rela kalah telak dari Luffy. Sebuah kekalahan yang sebenarnya sudah bisa ia duga sebelumnya.

Kali ini, kita mendapatkan pertarungan lainnya. Sanji, sang koki, bertarung melawan kaptennya sendiri.

Tentu, jika ini pertarungan serius antar bajak laut, Sanji tak akan punya harapan. Sayangnya keadaan yang begitu rumit membuat pertarungan ini jadi tak bisa ditebak.

Sanji yang bertarung dengan tampang serius, langsung menggunakan Diable Jambe. Ia memperlihatkan satu jurus baru yaitu Joue Shot. Ditambah dengan jurus lama “Concasse” tapi dengan mode baru – Sanji menggunakan Diable Jambe dan terbang lebih dahulu dengan Sky Walk – membuat Luffy sempat tak sadarkan diri untuk beberapa detik.

Namun, tak seperti judul chapter ini, masih bisakah hal ini disebut dengan pertarungan jika salah satu pihak sama sekali tak membalas serangan lawan?

~~ Kepalsuan yang Dipaksakan ~~

Tentu saja Luffy bisa melihatnya dengan jelas. Ia bisa melihat bahwa perkataan dan perbuatan Sanji hanyalah kebohongan semata. Kepalsuan yang dipaksakan. Ini sebabnya ia tak membalas serangan Sanji.

Apalagi kru Topi Jerami juga sudah mengetahui apa alasan Sanji melakukan ini semua. Pekoms sempat menceritakannya kepada mereka apa yang akan terjadi jika Sanji menolak pernikahan ini. Tak hanya nyawanya sendiri, tapi nyawa orang-orang terdekatnya juga dalam bahaya.

Nami juga sebenarnya memahami hal ini. Ia menampar Sanji hanya karena apa yang dilakukan oleh si koki sudah keterlaluan. Mungkin sandiwara itu Sanji lakukan untuk meyakinkan keluarganya, tapi tetap saja ia melewati batas.

Sanji melakukan ini semua karena terpaksa. Ia memikul beban yang teramat besar atas keselamatan teman-temannya. Mengorbankan diri untuk keselamatan orang lain bukanlah sebuah hal yang buruk, apalagi jika sudah tak ada pilihan lain.

Sanji sebenarnya sadar, bagaimanapun sandiwara yang ia lakukan, tak akan berpengaruh terhadap Luffy. Sang kapten yang keras kepala tentu saja tak akan mundur menyelamatkan temannya hanya karena akting abal-abal seperti itu, apalagi Luffy juga tahu alasan sebenarnya Sanji melakukan hal tersebut. Sanji yang sudah menemani Luffy dari East Blue pasti memahami apa yang ada di dalam pikiran sang kapten.

Tapi mau bagaimana lagi? Rencana? Mengapa Sanji tak memiliki rencana? Bukankah ia salah satu yang tercerdas di kru Topi Jerami?

Sanji, sebagai karakter, sering melakukan hal yang menakjubkan. Mengubah kondisi putus asa menjadi penuh harapan. Siapa yang menyangka Topi Jerami yang sudah terkepung angkatan laut di jembatan keraguan akan diselamatkan oleh Sanji yang dengan jeniusnya menutup gerbang keadilan dan membuat jalur kabur untuk teman-temannya, salah satu contohnya.

Namun keadaan kali ini sungguh berbeda. Dari awal Sanji sudah berada dalam tekanan. Selain itu Sanji sama sekali tak tahu tentang kedatangan Luffy ke Whole Cake Island. Sanji mungkin sudah punya rencana, mungkin, tapi aku yakin rencana tersebut tak melibatkan Luffy di dalamnya.

Dengan Luffy yang tiba-tiba muncul dihadapannya, tentu saja hal ini mengagetkan Sanji. Dalam rentang waktu sepersekian detik, Sanji harus mengambil keputusan apa yang akan dilakukannya. Dan ia memilih untuk bersandiwara mengusir Luffy. Meskipun aku setuju dengan Nami, apa yang dilakukan Sanji memang sudah kelewatan, tentu hal ini Sanji lakukan dengan tujuan baik – menyuruh Luffy pergi dari sana agar tak mendapat masalah dengan Big Mam dan juga Germa.

Tapi, apakah ini adalah keputusan yang tepat untuk diambil Sanji?

~~ Tangis Lelaki ~~

Ini bukan kali pertama Sanji menangis. Ia juga menangis saat meninggalkan Baratie dan juga saat berenang dengan para duyung. Tapi bukan berarti mengurangi kesedihan saat kita membacanya.

Aku suka detail Oda yang menggambar Sanji menangis dengan menutupi matanya. Bukankah memang seperti itu tangis para lelaki? Tak seperti para wanita yang ketika menangis lebih memilih untuk menutupi mulut mereka.

Apakah Sanji sudah melewati batas dengan sandiwaranya, yang jelas Luffy tak peduli. Ia paham apa yang sedang dialami oleh Sanji. Ia bahkan paham, semakin banyak Sanji menendangnya, semakin keras Sanji menendangnya, Sanji lah yang semakin merasakan sakit hati itu.

Oleh karena itu kemudian Luffy membalas aksi itu dengan aksi yang lebih gila lagi. Ia tak mau makan kecuali Sanji kembali, ia tak mau makan selain makanan buatan Sanji. Terlihat sebagai keputusan yang bodoh, menunggu disana, di tengah pulau markas musuh, menunggu untuk diserang.

Tapi sebenarnya ini adalah keputusan pintar yang dibuat oleh Luffy. Ia tahu sifat Sanji yang tak bisa membiarkan orang kelaparan. Siapapun itu. Entah temannya, entah bajak laut yang kemudian menyerang restorannya, siapapun, Sanji akan memberikan makan. Apalagi ini adalah kaptennya, mau tak mau, hatinya akan menuntun Sanji kembali kesana dan memberi makan pada Luffy.

Luffy sebenarnya sudah siap untuk menyelamatkan Sanji – apapun resikonya -, tapi ia tak ingin memaksakannya pada Sanji. Ia ingin Sanji sendiri yang merasakan dan mengatakannya. Luffy sekarang menunggu Sanji mengatakan hal seperti “selamatkan aku..” milik Nami atau “aku ingin hidup” milik Robin. Kemudian saat itulah misi pembebasan Sanji dari belenggu masa lalunya akan benar-beanr dimulai….

Hei siapa yang menaruh irisan bawang disini! T.T

Satu pertanyaan besar muncul di chapter ini, yang lebih penting dari cerita Sanji dengan kaptennya, lebih penting dari misi penyelamatan Sanji, dan jelas lebih penting daripada tangisan sang koki.

Jadi, apakah gigi Luffy akan tumbuh lagi?

XD

(tentu saja)

Sekian dulu review kali ini, selamat berakhir pekan

Terima kasih sudah membaca sampai disini dan sampai jumpa lagi~~

Salam alis keriting~~ 66

Thanks to: Mangastream, APforums, Wikia

 

Review dan Pembahasan One Piece Chapter 844 – Luffy vs Sanji

Oleh Oikgerd. Admin One Piece Fans Club Indonesia

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World