Quick Analysis One Piece Chapter 851: Tab End

0

Yoi guys, bareng Cal disini. Di mana lagi klo bukan Quick analysis chapter terbaru yang beberapa jam lalu rilis. Kuharap kalian yang berada di sini sudah terlebih dahulu membacanya karena kita akan membahas point point nya disini . So here we go!

Adakah yang tertawa melihat begitu lihai nya Pudding merubah mimik muka nya di hadapan Reiju hanya untuk mencemooh Sanji?

Tertawalah karena itu memang lucu. Jika kau memotong hanya pada bagian ekspresi Pudding dan mengosongkan balon dialognya, ekspresi Pudding cukup mengundang gelak tawa. Tapi jika melihat keseluruhan panel sambil membaca tiap balon dialog yang terpampang disana, maka mustahil kita bisa tertawa. Bahkan justru kita akan merasa begitu kesal, amat kesal. Yup di awal chapter ini kita di suguhi interaksi antara Reiju dan Pudding. Tak di gambarkan bagaimana Reiju bisa mengetahui sandiwara Pudding, yang jelas itu jadi alasan yang cukup bagi Pudding untuk membuka topengnya di hadapan Reiju.

Sementara di balik jendela, kita memiliki Sanji yang membeku, masih sulit menerima tentang apa yang ia dengar dari mulut “cahaya harapan” nya itu.

Normalnya jika rencana jahatmu diketahui oleh target maka kau dalam masalah besar. Hal yang harus kau lakukan Membungkam mulut orang yang mengetahui rencanamu tersebut, entah dengan mengurungnya atau membunuhnya. Itu hal paling rasional yang bisa kau tempuh untuk memastikan semuanya tetap berjalan sesuai rencana. Tapi kita memiliki satu lagi metode yang jauh lebih baik dari ke dua metode tadi. Metode yang hanya bisa dilakukan oleh Pudding sebagai Memo Memo no Mi user.

Singkatnya Memo Memo no ability adalah ability yang memungkin kan usernya memanipulasi ingatan seseorang. Menarik nya keluar dalam bentuk rol film, menambahkan memori palsu sesuai kebutuhan dan memotong bagian ingatan ya tak diperlukan kemudian memasukkannya lagi dalam kepala seseorang. Sesederhana itu. Dengan begitu Reiju mengira luka dipahanya diakibatkan peluru nyasar dari prajurit tak dikenal ketika ia berjalan di kastil. Tak ada pertemuan dengan Pudding, tak ada fakta yang tanpa sengaja ia ketahui. Hanya kecelakaan normal. Dengan begitu rencana Pudding tetap berjalan normal.

Namun kesialan Pudding tak berhenti sampai disitu karena ternyata Sanji tanpa ia sadari mendengar jelas percakapan mereka.

Entah apa yang ada di pikiran Sanji saat ini, sulit bagiku merangkainya dalam sebuah kalimat. Menyalakan puntung rokok di tengah guyuran hujan jelas merupakan hal bodoh. Tapi tentu Sanji menyadari itu. Bukan karena ingin menghisap sisa puntung rokok di mulutnya tapi itu semata pengalih perhatian atas apa yang baru saja ia lalui. Dengan terus menerus berusaha menyalakan rokoknya,Sanji mencoba untuk melarikan diri dari realita kejam yang baru saja menimpanya. Hal seperti ini memang sudah jadi kebiasaan seorang perokok aktif. Apa tindakan Sanji setelah ini?

Normalnya ia berusaha menemui ayahnya untuk mengatakan apa yang baru ia dengar, dan sebenci apapun Vinsmoke family terhadap Sanji, tentu mereka akan memperhitungkan ucapan Sanji. Lagipula sedari awal Jajji tak percaya seratus persen kepada Mama. Lets see bagaimana respon Germa akan hal ini.

Di scene selanjutnya, ada Brook yang berusaha bangkit lagi setelah tersungkur di hadapan Mama. Aku bisa katakan bahwa ucapan Brook adalah hal paling rasional melihat situasi saat ini. Kalimat kalimat yang ia ucapkan adalah kristalisasi dari asam garam kehidupan yang ia telah lalu dalam 90 tahun hidupnya. Jadi wajar kita akan merasakan kedewasaan pola pikir dari setiap ucapan Brook. Dengan Zeus dan Prometeus di kedua tangannya, tak membuat Mama jadi sosok yang besar dihadapan Brook. Yah itu karena ucapan Brook tak kalah “besar” nya dengan sosok Mama.

Kenapa Zeus dan Prometheus tak mengalami nasib yang sama seperti yang dialami prajurit catur di hadapan Brook?
Sadar kah kalian jika wajah Zeus dan prometheus itu begitu mirip dengan Mama? Dari hal tersebut aku berani mengatakan jika Zeus dan prometheus adalah Hommie yang berisi pecahan jiwa Big Mom itu sendiri. Maka dari itu jadi hal wajar jika jiwa mereka jauh lebih kuat daripada jiwa yang mendiami prajurit catur. Soal kemiripan wajah hommie, kita juga bisa melihat itu pada Nitro the Jelly. Menurut kalian wajah Nitro mengingatkan kalian pada siapa? Hahaha

Dan bagian yang paling membuat kita berdacak riang di chapter ini adalah sosok matahari yang masih menyinari SHP ditengah badai di WCI. Siapa lagi kalsu bukan Jinbe, kapten dari bajak laut matahari yang kedatangannya di hadapan Luffy seolah seperti matahari yang memberikan sinar harapan. Dengan 5000 tile seiken, ia menghempaskan Opera (semoga itu cukup membuat Opera tak sadarkan diri).

Its time to pay your debt, Jinbe!

 

Quick Analysis One Piece Chapter 851: Tab End Oleh Calgara

Admin One Piece Fans Club Indonesia

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World