Portgas D Ace

0

Hangat hembusan angin kala itu, diperjalananku menapaki surga. Teringat 3 tahun silam saat pelayaranku menuju dunia. Dengan segenap asa dan semangat dari saudaraku yang mengarungi lautan impiannya, meninggalkan sejuta kenangan yang terukir dalam jiwa.

Saat itu Luffy tersenyum, menatapku dengan api membara dalam dada. Hendak berkata apa aku pada adikku? Rasanya dada ini cukup sesak untuk berkata. Ucapan perpisahan hanya untuk mereka yang menyerah, pertemuan kami pasti terjadi. Kutunggu saat itu, ucapku dalam hati.

Sayap camar yang menari gembira di batas dermaga, wajah jelek seorang ibu yang ingin kulihat tak nampak jua. “Ucapkan, salamku padanya.” kataku. Lalu kuberpaling, menyongsong asa yang telah terbuka, pintu dunia yang kunanti sekian lama.

Adik kecilku terus mengoceh tiada henti, sayup suaranya tersamar deburan ombak nakal yang membuatku semakin bersemangat. Meninggalkan Fhoosa, dan merintis karirku sebagai seorang bajak laut.

Ah, rupanya aku bermimpi, tubuhku melemah terhembas gempa luar biasa. Kubangkitkan badanku yang mulai manja ini dari tempatnya. Kubuka perlahan pintu besar itu, menuju cahaya dan riuh suara. Sial! Sinar ini menyilaukan, aku lemah karenanya, rasa lapar tak terhingga, aku tertunduk lemah di tepi pintu.

“Hey, silahkan makan, kau lapar bukan?” tanya seorang pria.

“Ha.. tidak usah… aku tidak lapar” aku berbohong melawan kenyataan.

“Hee… tidak perlu sungkan, kawan kawanmu juga sudah makan” ujarnya.

“Kapten, kau sudah sadar rupanya… kau baik baik saja bukan?” ucap para bawahan payah itu.

“He…he..hehehehehehe dasar, tak berguna.” aku mengumpat diriku sendiri.

“Hee… ayolah, makan, kau sudah tidur lebih dari 3 hari..”

Apa yang aku rasa adalah malu yang teramat sangat. Aku yang bermulut besar, sedang dikasihani seseorang. Dan seseorang itu adalah ia yang mengalahkanku, lalu menyambutku dengan ramah. Kuangkat wajahku, kutatap wajahnya, dia tersenyum dengan ramah. Lalu aku menerima pemberiannya. Sial… enak sekali, aku makan dengan lahapnya.

Kala itu, aku menatap wajahnya. Kakek tua yang terbaring dengan infus ditubuhnya. Kuberanikan diri menyapa, dia menatapku lalu tertawa. Sifatnya ini membuatku ngeri. Bagaimana orang sekuat dia bisa ramah seperti ini? Kubuka kotak Pandora, harap sial tak muncul dari dalamnya. Bukan tamparan yang aku dapat, bukan hinaan yang aku terima. Melainkan senyum dan seuntai kata,

“Aku tahu, dan kenapa? Aku tidak peduli! Sekarang kau adalah anakku!”

Sebuah pengakuan yang tak pernah aku terima. Meski kelam masa lalu menghantuiku, meski bayangnya melekat dan darahnya mengalir ditubuhku, kakek ini melihatku, diriku, apa adanya aku. Dan pada saat itu air mata ini tak dapat berhenti keluar, mengalir dengan derasnya. Bendungan perasaan yang akhirnya terbuka, mengalirkan emosi yang tak terkira. Lalu apa yang dia lakukan? Bukannya menatapku dengan iba, ia justru tertawa dan bangga.

Ini adalah kisahku menuju bahagia…

Lambat laun aku mampu berdiri dengan tegak, dengan punggung terbuka, membusungkan dada dan bangga. Menjadi bagian dari keluarga besar yang luar biasa, dimana orang – orang hebat bertegur sapa dan bercanda sebagai seorang saudara, putra dari ia yang perkasa, Shirohige yang kuasa.

Hingga sebuah benang merah ditarik dan mencuat. Saudara yang senyum menyapa bersimbah darah. Badannya terbujur kaku dan dingin, dia pergi dan tak akan kembali. Sebuah noda yang tak akan bisa dihapus, aturan keluarga nomor 1 telah dilanggar. Sebagai saudara aku tak bisa tinggal diam. Sebagai pemimpin aku harus bertanggung jawab. Lalu kuputuskan, mengejarnya dan menuju lautan surga.

Dalam pencarianku, sesuatu yang besar terjadi. Adik kecilku yang rapuh sudah tumbuh menjadi lelaki yang dapat dipercaya. Dikelilingi teman yang menyenangkan, dan yang pasti, dia bahagia.

Suara langkah kaki sayup terdengar, seorang sipir dan tamu istimewa. Dara cantik itu menatapku tak biasa, dalam tanya aku terbuai, lalu tersentak serasa ditikam.

“Adikmu berada di sini, dan hendak membawamu pergi.”

Kalimat sederhana nan penuh kejutan. Aku yang terbujur lemah akibat tulah kesombongan melawan kegelapan, hanya bisa terdiam.

Kawanku mengingatkanku, bahwa semua yang ia katakan belum tentu benar. Tapi aku paham betul sifatnya, dan entah mengapa aku percaya. Kawanku hanya kaget tak menyangka, bahwa kami bersaudara. Sepertinya ia menyimpan sebuah rahasia, namun tak apa, aku juga kurang tertarik karenanya.

Tak lama.. jalan ku menuju bahagia terbuka…

Aku tinggalkan kepekatan dan derita. Sejuta cemas menghampiri, tentang adik, ayah dan para saudara. Sebagai penjahat aku cukup diperlakukan istimewa, mereka bahkan menjaga jarak dariku. Pria yang menyandang nama pria terkuat di dunia, dan darah iblis yang tersenyum di gerbang neraka.

Di panggung itu aku melihat, lautan manusia dengan jubah putih bertulisakan keadilan dipunggung mereka. Bersiap menyambut tamu istimewa, Ayahku dan para saudara. Bagai sebuah pertunjukan, si Kakek Tua muncul tak terduga, cukup mengejutkan dengan salam dua buah tsunami yang kemudian membeku. Dan teriakan semangat saudaraku yang menggebu, darah mereka yang mengalir, menamparku. Bahwa naïf diriku yang menyerah, sedang mereka berkorban nyawa demi aku yang lemah ini. Dan kuputuskan untuk tetap hidup.

Satu persatu dari mereka tumbang, bendera putih dan hitam memerah, api amarah berkobar dalam pertunjukkan yang disiarkan ke penjuru dunia. Sahabat besarku tersenyum bersimbah darah, membuka jalan untuknya yang bersedih. Dengan licik keadilan membuka pintu terlarang, rahasia besar yang menjadi aibku dan dunia. Sedang kakek menangis tersedu, kesal dan menyesal tepat disampingku. Sosok berharga yang mengizinkan aku hidup di dunia, hatinya terbelah, keadilannya ditangguhkan, hanya terdiam pasrah mengumpat masa lalu yang tak bisa berubah.

“Ace!”

Teriak seorang bocah polos pemimpi dari udara, kejutkan dunia dengan kehadirannya. Buatku gemetar dan tak kuasa menahan marah! Mengapa? Mengapa harus dirimu? Mengapa kau kemari? Sudah cukup aku kehilangan saudaraku. Jika kau tak selamat, percuma hidupku ini. Jika aku mati, kau pasti akan marah dan berbuat bodoh.

“Aaaaccceeee tunggu sebentar, aku pasti akan menyelamatkanmu.” teriaknya dengan keras.

“Luffy! Bodoh! Pergi! Aku tidak ingin aku selamatkan! Memang kau bisa apa bodoh!” Aku mengumpat menelan seribu sesal.

“Aku tidak peduli! Aku tidak peduli! Kalaupun kau tak mau, aku tidak peduli. Meski harus mati, aku pasti akan menyelamatkanmu, karena.. karena.. aku adalah adikmu!”

Dia datang, dengan segala kecerobohan dan kesombongannya itu. Semua itu membuatku semakin menyesal. Ingin rasanya aku melepaskan borgol ini, dan pergi memeluknya, memohon maaf karena telah melibatkannya.

Bahagia itu segera datang, aku berdiri tepat hadapannya…

Dengan kekuatan tak terduga Luffy menyelamatkanku. Sialan.. anak ini selalu membuatku kagum padanya. Dengan semangat menggebu aku berlari, menyongsong hidupku yang dipenuhi darah pengorbanan saudaraku. Hidupku yang berharga, hidupku yang kusesali, dan semua orang yang kucintai.

Emosi menguasaiku. Ayahku berdiri kesakitan dan kehilangan wajahnya. Aku marah, aku sangat marah, melihat pria terkuat di dunia, dilecehkan dengan liciknya. Keadilan yang akhirnya membuka diri, memperlihatkan hitam yang pekat yang bersemayam dalam putih jubah kebanggaan. Kukepalkan tanganku, kutaruh semua marahku disitu. Kutarik napas dan kuhempaskan sebuah pukulan seraya berkata…

“Era ini… bernama Shirohige!”

Naifku memang tak bisa hilang, emosi memojokkanku, melihat ayahku yang tersenyum tanpa merasa kesakitan, tanpa marah meski hinaan menampar wajahnya. Dan adikku yang diambang maut, melihat kobaran lava panas di depan matanya….

“A..Ace.. apa yang kau lakukan? Hoy! Ace!“ sayup terdengar suara adik bodoh itu.

“Lu… Lu…Luffy. Syu…syukurlah kau baik–baik saja.” ucapku perlahan.

“Hoy.. Da..darah. Ace kau berdarah, hoy Ace!”

“Hoy, Ace! Jawab hoy. A..Ace! Lu..lukamu, lu…kamu tak tertutup kembali. Hoy Ace, berhenti becanda!”

“Nee.. Luffy. Maaf.”

“A..Ace.. Bicara apa kau. Ayo obati lukamu dulu, Ace!”

“Uhuk. Biarlah seperti ini. Aku su…sudah.. ti.. tidak punya banyak.. wa..waktu.”

“Nee, Luffy. Maafkan kakakmu yang tak berguna ini. Padahal kau dan yang lainnya su…uhuk sudah berusaha, me… menyelamatkanku. Ta.. tapi.. aku be… berakhir, seperti i.. ini.. uhuk.”

“Hoy, Ace! Berhenti bicara! Ayo obati lukamu. Hoy, seseorang, tolong lah!”

“Hoy, kalian mendengarku atau tidak! Ace terluka, cepat obati. Dokter… mana dokter kalian? Kenapa kalian terdiam, hoy! Jawab aku! Ace, bertahanlah, seseorang cepatlah!”

“Lu.. Luffy, maaf aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.. uhuk. Maaf, karena tidak bisa melihatmu meraih mimpimu. Maa.. maaf, ta..tapi a..aku p..pe..percaya, k..kau pas.. uhuk.. pasti bbbbbisa melakukannya. Karena… kau..A..uhuk, adalah adikku!”

“…”

“Ace? Hoy Ace! Ja! Ace… Ace… “

“Mugiwara… Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan kakakmu…”

“Hoy hoy.. Bercanda. Ace jawab. Ace!”

“Ace!”

 

Portgas D Ace by ONE PIECE INDONESIA

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World