One Piece dan Fenomena “Om Telolet Om”

0

Indonesia sedang demam telolet. Demam yang juga mulai menjalar ke dunia luar. Jika kita membuka media sosial, hampir di setiap postingan pasti ada komentar “om telolet om”. Mulai dari postingan teman sampai postingan artis internasional, tak ada yang bebas dari komentar ini. Sebuah kalimat yang sebenarnya punya arti lebih dalam daripada kelihatannya.

Bahagia itu sederhana. Di tengah hiruk pikuk pantura setiap hari, di antara isu SARA yang terus menggerogoti negeri ini, dan makin sulitnya menemukan acara berkualitas di televisi – sekelompok anak masih bisa menemukan kebahagiaan mereka sendiri.

Darurat permainan katanya. Mereka yang sudah tak bisa menemukan hiburan, beralih ke jalan raya. Berjejer di pinggir jalan, berharap-harap cemas menunggu bus untuk datang, dan berteriak “om telolet om!”. Bagi mereka, suara klakson yang memekakkan telinga itu adalah hiburan. Anggukan sang supir tanda menyetujui permintaan, bagi mereka adalah hasil jerih payah berpanas-panasan, berteriak tak kenal lelah, demi sebersit kebahagiaan.

Bagi anak-anak ini, telolet adalah kebahagiaan. Bagi mereka, telolet adalah jalan keluar dari kesepian. Dari mereka, telolet mencerminkan kehidupan.

Dunia One Piece memiliki telolet mereka sendiri.

Bagi Robin, tawa “dereshishishi” adalah telolet-nya. Ia yang terus sendiri sejak kecil, ditinggal ibunya, kampung halamannya dihancurkan, tanpa teman, sepertinya dunia ini tak menginginkannya ada disana. Ia hanya bisa mengingat sedikit tawa yang pernah diajarkan kepadanya. Tawa yang akan menemaninya saat sedih, tawa yang selalu menemaninya saat sendiri. Tawa yang kemudian membawa kebahagiaan.

Api Shandora adalah hal yang membawa kebahagiaan bagi Nola si ular raksasa dan seluruh penduduk Skypeia. Telolet mereka. Suara nan merdu yang kembali berkumandang setelah 400 tahun lamanya itu kembali membawa kebahagiaan. Mengakhiri perang yang terus terjadi selama berabad-abad. Menyudahi kesedihan yang sudah berlangsung terlalu lama. Suara lonceng yang membuat Nola bisa tertawa lagi, suara indah yang bisa membuat penduduk menari lagi.

Bagi kota terisolasi dengan bencana yang tiap tahun menanti, Puffing Tom adalah cahaya harapan. Suara peluit kereta air itu adalah suara telolet bagi penduduk Water 7. Kota yang dulu suram, kini berubah menjadi megapolitan. Kota yang dulu tertinggal, kini menjadi yang terdepan. Penduduk hanya bisa berterima kasih kepada Tom, orang yang membawa kebahagiaan ke kota ini. Orang yang membawa kemakmuran ke pulau ini.

Bukan waktu yang sebentar, seorang diri di dalam kabut 50 tahun. Brook, tengkorak yang terombang-ambing sendirian di tengah laut, tanpa kawan, hanya kenangan. Sekelompok bajak laut yang datang kesana dan menyelamatkannya adalah kebahagiaan. Membawa tawa itu kembali lagi, membawa canda tawa itu bersemi kembali. Seorang kawan untuk berkeluh kesah, seorang kawan untuk berbagi cerita. Telolet bagi dirinya.

Kehidupan ini adalah mencari kebahagiaan, dunia dan akhirat. Mencari telolet untuk diri kita, seperti anak-anak itu yang juga mencari kebahagiaan mereka.

Entah itu dengan tawa saat kita sendirian seperti Robin. Menyingkirkan segala perbedaan untuk hidup bersama dalam kerukunan layaknya penduduk pulau langit. Membantu sesama dan membawa harapan untuk orang lain seperti Tom di Water 7. Atau mencari teman untuk bersama mengarungi kerasnya kehidupan macam Brook.

Semuanya demi kebahagiaan, semuanya demi telolet.

Terima kasih untuk para supir bus yang sudah memberikan telolet-nya untuk anak-anak. Terima kasih juga buat kalian yang sudah membaca ini dan memberikan telolet kepadaku.

Entah itu suara dari klakson bus, suara gelak tawa, suara gema lonceng emas, suara peluit kereta, maupun suara musik biola, semoga kita semua mendapatkan suara telolet yang kita minta.

Sampai jumpa lagi, dan tak lupa.. Salam telolet.

 

One Piece dan Fenomena “Om Telolet Om”

Oleh Oikgerd. Admin One Piece Fans Club Indonesia

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World