Nefertari Vivi

0

Minna,

Apakah kalian percaya dengan cinta pada pandangan pertama? Aku sangat percaya!

Cinta yang kumaksud bukan rasa yang memanipulasi otakmu hingga kau tersipu tak menentu. Bukan juga cinta yang membuatmu gila hingga kau senyum – senyum sendirian karena alasan maya.

Cinta yang ini lebih kuat dari badai yang menerpa kala alam berseteru dengan cuaca. Ini adalah kisah tentang cinta yang tak bisa digantikan apapun. Letupan rasa yang jauh lebih panas dari magma, lebih berkobar dari api membara, dan lebih dahsyat dari deburan ombak raksasa. Ini adalah cinta seorang putri yang berjuang seorang diri, dan sebuah negeri yang berada dipenghujung mati.

Ini adalah kisah sejuk di panasnya negeri yang ditinggalkan hujan. Setangkai bunga indah yang melenggok mesra di tengah terpaan angin gurun di bawah mentari yang terik menyengat.

Kami bertemu dengannya di dalam perut paus pemarah yang merindukan sahabat yang tak kunjung kembali 50 tahun lamanya. Bersama seorang teman ia berlaga, sebagai seorang penjahat hebat dari organisasi gelap adidaya.

Singkat cerita, kami sepakat mengantarnya pulang. Seorang puteri dari salah satu kerajaan “Pencipta Dunia”. Orang penting yang menjadi kunci, dari kehidupan jutaan penduduk yang berdiri tepat digerbang sengsara.

Ini adalah kisah tentang dua kesatria yang bertarung dengan bangga.

Perjalanan kami masih jauh, bersama Going Merry kami melaju, menuju negeri baru dan petualangan yang sudah pasti akan berlangsung seru. Diatas kapal nampak keraguan tersirat dimatanya, putri cantik berambut biru yang mencemaskan negaranya. Melihat kami bercanda riang seperti biasa, membuatnya tak nyaman melihatnya. Baginya kami hanya bermain – main, dan jauh dari kata mampu untuk mengatasi segala masalah yang ada. Nami datang memberi minuman pelepas dahaga, seraya berkata,

“Tenang saja, nanti juga kau terbiasa, dan mengerti juga percaya, bahwa mereka bisa diandalkan”.

Sejenak keraguan mulai pudar dari pandangan, tapi harap cemas tentang masa depan tanah kelahiran terus berputar dalam kepalanya. Bagai tornado ditengah badai, kala hujan lebat dan petir menyambar, raut penuh duka nampak jelas terlihat. Teringat kematian pengawal setia, juga wanita misterius yang datang dengan senyum palsu menawarkan jalan pulang.

Di pulau purba kami singgah, melihat 2 kesatria sejati beradu senjata, gempa yang diciptakan dari letusan gunung api dan pertarungan dua raksasa. Ini adalah pengalaman yang tak akan terlupa, dua orang pria sejati bertarung 100 tahun lamanya. Meski sejatinya mereka bersahabat, namun kebanggaan dan martabat dipertaruhkan, jalan hidup kesatria yang sudah lama aku damba. Dorry dan Broggy, buronan legenda yang memiliki harga kepala 100 juta berry. Bertarung memperebutkan jalan pulang sebagai kesatria sejati.

Di pulai inilah rintangan pertama tersaji, Mr. 3 dan asistennya yang berlaku keji. Mengotori pertarungan legendaris dengan cara yang amat tragis. Tiga dari kami diculiknya, dijadikannya patung lilin hingga tak berdaya, sementara si raksasa merah meregang sakit melihat kawan lama sembunyikan luka.

Tawa Mr. 3 yang menjengkelkan masih terngiang dikepala, juga si manusia peledak dan asistennya yang menjengkelkan. Meski pada akhirnya mereka tak berdaya dan tak cukup kuat untuk menahan laju petualangan yang sedang kami nikmati. Tapi itu sudah cukup untuk memperingatkan kami semua, bahwa lawan kami bukan orang biasa.

Saat kami meringis menahan luka, si Koki Genit datang membawa harapan cerah, jalan menuju Alabasta yang tertutup akhirnya terbuka. Layar dikembangkan, jangkar diangkat, perjalanan kami akhirnya dilanjutkan, dalam suasanya sedikit tidak biasa Luffy masih bisa riang tertawa, meski senyum belum juga nampak dari sang Putri bijaksana.

Di perjalanan kami bertemu seorang pria aneh dengan pakaian ballerina. Kekuatan anehnya membuat kami ternganga, mane mane no mi dan kemampuan meniru yang luar biasa. Dia tunjukan berbagai wajah yang berhasil disalinnya, bukan hanya wajah, fisik bahkan suara mampu ditiru olehnya. Menari dan bernyanyi, bagai kawan lama, kami akrab bergandengan tangan, meski sejatinya hari itu adalah pertemuan kami yang pertama. Mengingat itu semua, aku jadi sedikit cemas, bagaimana kabarnya saat ini.

Kemudian Putri berlutut lesu, efek dahsyat dari pandangan sedang melanda, dia melihat wajah yang tak asing dari salinan pria ballerina.

“Tadi, ketika pria itu menunjukan kemampuannya, aku melihat wajah ayahku, Nefertari Cobra, Raja dari Alabasta”.

Mendengarnya membuat kaget kami semua, ternyata pria riang itu adalah musuh yang seharusnya kami kalahkan.

Banyak rintangan yang kami hadapi, Nami jatuh sakit dan tiada dari kami yang mengerti pengobatan.

Negeri salju jadi tempat persinggahan, terjadi peristiwa tak biasa, Putri bijak melelehkan es yang keras dalam diri Luffy. Berhasil menekan ego petualangnya dan mengajarinya apa itu berlaku bijak. Itulah salah satu kejadian yang sangat berkesan untuk kami semua, Luffy menunjukkan jiwa bijaknya untuk pertama kalinya. Berdua, kapten dan puteri menundukan kepala, memohon pertolongan demi kesembuhan navigator tercinta.

Di negeri ini kami dapat kawan baru, seekor rusa berhidung biru. Calon dokter terhebat dunia, yang akan membuat obat untuk segala penyakit yang melanda. Nami berhasil disembuhkan, perjalananpun kami lanjutkan.

Alabasta terlihat dipelupuk mata, panas cuaca menjadi tak terasa kala kami semua mengangkat tangan kiri yang dihiasi sebuah tanda, tanda persahabatan abadi dan sebuah janji suci, MENJADI TEMAN SELAMANYA.

Ini adalah kisah tentang negeri tandus yang ditinggakan hujan.

Fatamorgana, indah bias yang terlihat samar nyaris nyata. Bahagia hati rasa, sejenak saja khayal semu menjadi nyata, memberi harapan kosong yang menyakitkan ketika disadarkan seusainya.

Negeri itu bernama Alabasta, negeri besar dengan segudang sejarah. Raja yang bijak, rakyat yang bahagia meski hidup jelata, dan hujan ajaib di ibukota, Alubarna. Namun sekarang kejayaan itu diambang batas, pemuda yang tak sabar menahan napsu muda membawa semangat yang berkobar ke jalan yang bersebrangan dengan pemerintahan, dan terpecahlah sebuah pemberontakan.

Negeri tentram itu sudah lama ditinggalkan hujan, raja difitnah oleh seorang pahlawan. Pahlawan yang dielukan, pahlawan yang menjadi musuh dari hujan. Pemuda dengan egonya berdiri menghadapa, melawan negeri dan menuntut keadilan. Kembalikan hujan dan kebahagiaan yang sedari dulu Raja sajikan.

Putri berjuang sendirian, mencari informasi tentang dalang dibalik kesengsaraan yang melanda. Menjadi bagian dari penjahat besar rela ia lakukan demi kampung halaman dan keluarga, meski nyawa taruhannya. Tersentak ia terdiam, tak habis pikir ia tak percaya, pahlawan negeri yang dielu elukan adalah dalang dibalik ini semua.

Buaya dan organisasi besar yang mendunia, penjahat kelas atas berjubah pahlawan baik hati. Crocodile, penjahat keji yang berlindung dalam naungan kuasa dunia. Mengacau dengan politik adu domba, lalu muncul sebagai pahlawan demi pikat hati warga.

Ini adalah kisah tentang janji dengan sahabat sejati.

Dengan enteng kapten berkata,

“Jadi, aku hanya perlu menghajar dan mengalahkannya bukan?”.

Membuat keraguannya terhadap kami perlahan sirna, dengan sisa harapan ia berusaha percaya, pada kami yang berkata “Tenang saja, Biar kami yang mengurus sisanya”.

Jauh gurun kami lintasi, apa yang kami cari rupanya tak behasil kami temukan. Usaha dan semua keringat yang keluar nampak akan sia – sia saja, melihat seorang kakek tua renta menggali pasir tanpa henti demi setetes embun dari Oasis yang dulu pernah Berjaya.

Di oasis Yuba yang mengering aku mengerti, derita ini amat sangat luar biasa. Pantas saja Putri selalu melamun, terlalu berat yang ia pikirkan. Ingin sekali aku membantunya, namun nasehat nampaknya hanya akan memperkeruh suasana.

Kami putuskan kembali, namun kaptenku yang bodoh merubah pikirannya. Duduk bermalas malasan seraya berkata, “Aku menyerah, lakukan sisanya tanpaku” katanya dengan mudahnya.

Putri marah, menangis dan berteriak, orang yang ia percaya rupanya hanya bual belaka. Luffy dipukulnya, mereka bertengkar hebat. Ingin rasanya aku memukulnya juga, dengan apa yang kami lewati bersama, rasanya aku tak terima mendengar kaptenku berkata. Namun sesaat setelahnya, aku mulai mengerti, jalan pikir kapten kami yang memang diluar nalar orang bijak sekalipun.

Yang ia lakukan bukan pengkhianatan terhadap janji, melainkan kunci untuk membuka pintu hati yang ditutup rapat. Ia ingin menerima separuh derita yang dialami, ia ingin Putri bijak menangis sebagai manusia, bukan menahan semuanya seperti baja keras yang dingin. Ia membuka pikiran kami semua, bahwa mustahil jika ingin semua berakhir bahagia, apabila masalah tidak diselesaikan langsung ke intinya.

Dengan lantang ia berkata, bahwa ia akan mengalahkannya, jadi siapkan makanan sebanyak banyaknya. Memang jalan pikiran kaptenku sedikit berbeda, sepertinya teman dan makanan berdiri sejajar di tempat yang sama dalam pikirannya.

Dalam perjalanan menuju Rainbase puteri sedikit menundukan kepala ketika Nami berkata,

“Kau terlalu mencemaskan segala.”

“Tidak, aku percaya” jawabnya.

“Aku tahu kau berbohong” balas Nami,

“Kalian semua memang luar biasa. Aku sudah merasakannya sejak pertarungan 2 raksasa, bagaimana kalian bisa saling percaya satu sama lain?” tanyanya,

“Itu hanya sebuah spontanitas, tidak ada yang kami pikirkan” jawab Navigator kami,

“Disitulah yang luar biasa, percaya satu sama lain, padahal kepercayaan itu sangat sulit” katanya,

“Aku juga tidak tahu mengapa, semua hanya melakukan yang kami bisa, apakau tahu? Saat di pulauku waktu itu Luffy mengucapkan kata – kata yang cocok untukmu, dia berkata bahwa ia tak bisa ilmu pedang, navigasi, memasak ataupun berbohong, itulah mengapa aku tidak bisa hidup tanpa mereka. Aku sangat ingat kata – kata itu, dan kurasa ini adalah peran dari seorang teman” jawab Nami puaskan dahaga.

Ini adalah kisah tentang peperangan dan pertemanan.

Perang tak dapat dihindari kala Luffy berada diambang mati. Yang tersisa dari kami berjuang, demi negeri juga diri sendiri, sementara putri berteriak tanpa henti, coba hentikan perang yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Tetes demi tetes darah tumpah, teriakan kesakitan dan kemarahan menggema megah. Suara ledakan terjadi di penjuru negeri, alun alun kerajaan yang suci menjelma menjadi neraka kejam yang menyajikan tontonan mengerikan.

“Tolong hentikan perang ini. Tolong hentikan perang ini. Tolong hentikan perang ini”, ia terus meneriaki seisi negeri yang sedang marah. Tak didengar, tak dianggap sama sekali, namun ia tak menyerah. Tetes air mata mengalir deras, ketika kawan, saudara, penjaga, penduduk tercinta bahkan sahabat sejak kecil beradu kuat dalam peperangan. Darah menetes menggantikan hujan yang lama hilang, air mata mengalir deras menggantikan air yang mengurang, marah menggantikan tawa dari orang – orang yang sejatinya periang.

Satu persatu kawanku berhasil menang, mengalahkan momok menakutkan dari organisasi yang menjadi biang kedali perang. Banyak ironi terjadi, salah satunya Pell yang mengorbankan diri, burung gagah yang menjadi lambang kerajaan, mengorbankan diri selamatkan jutaan warga yang kalap oleh kemarahan.

Ini adalah kisah tentang keajaiban dari “percaya”.

Hujan perlahan turun ke bumi, membasuh luka yang lama bersarang. Biang keladi terkapar tak berdaya, setelah diterbangkan kapten kami jauh ke angkasa. Marah pun mereda, perang terhenti untuk sementara, putri berteriak menangis haru, “Tolong hentikan perang ini” memudarkan napsu kelahi dari seisi negeri.

Para prajurit tertegun, melihat sosok putri yang dikiranya sudah lama mati. Semuanya tertunduk malu, menahan gengsi diri untuk melanjutkan yang belum berakhir.

Keajaiban terus terjadi, pengawal setia yang dikira mati, pulang kembali dan redam napsu yang tersisa. Segala kebenaran terungkap perlahan dengan sendirinya, tentang fitnah yang keji melanda.

Puteri teringat akan senyum kaptenku yang polos, juga kata – katanya yang sulit dipercaya,

“Jadi si Crocodile itu, aku hanya perlu menghajarnya bukan?”

Semua omong kosong yang terbukti, dan janji yang mengikat hati. Air mata kami tak kuasa mengalir, saat mendengar suara teman yang akhirnya tersampaikan.

Perjuangan dan segala pengorbanan berakhir manis, negeri tandus ini berhasil bertahan. Hujan yang dicuri direbut kembali, tawa yang lama hilang muncul, darah yang menetes mengering, seiring luka yang memicu bahagia.

Negeri kuat ini perlahan bangkit. Puteri tercinta menebar bahagia, Raja bijak kembali menduduki tahta. Kami putuskan untuk pergi, melanjutkan petualangan untuk meraih mimpi, bersama kawan baru dari negeri salju, rusa lucu berhidung biru.

Di tepi pantai, putri melambai, ucapkan kata kasih yang menyentuh. Memanggil kami dan ucapkan salam. Ia tidak bisa melanjutkan perjalanan bersama kami, karena negeri itu membutuhkannya.

Ia bertanya? Apakah kami masih berteman?

Sejujurnnya ingin kami berteriak, namun suasana mengancam negerinya. Seorang Putri tidak seharusnya berteman dengan bajak laut. Kami angkat tangan kiri kami, tunjukkan tanda janji kami tempo hari. Tanda teman selamanya, tanda janji dimana hanya kami yang mengerti.

Dalam haru kami berpisah, dengan sahabat yang mengajarkan kami apa itu cinta dan bijaksana.

Sejujurnya kisah ini terlalu singkat untuk menggambarkan semuanya, banyak sekali yang terjadi dan tidak kutuangkan di dalam sini. Mungkin lain kali akan kutulis semuanya, dalam bingkai petualangan luar biasa.

Ini adalah kisah tentang Alabasta dan sahabat kami tercinta, Nefertari Vivi sang Putri Bijaksana.

Perjalanan menyebrangi kegelapan lautan.

Setelah meninggalkan negeri ini, aku melihat betapa luas lautan. Dan aku juga tahu di sana ada pulau – pulau yang luar biasa. Akupun melihat banyak hal, seperti makhluk asing dan perkampungan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Gelombang melodi mulai terasa sepi dan lembut, seolah olah meredakan cemasku,lalu membesar seakan menikam jantungku yang lemah ini. Di dalam gelap lautan aku menemukan sebuah kapal kecil.

Kapal itu berkata padaku, ‘apakah kau tak melihat cahaya itu?’. Kapal itu sangat luar biasa, tak pernah tersesat meski dalam gelap juga mampu menari diatas gelombang besar. Kapal itu tidak melawan arus lautan, tapi hanya lurus kedepan selama angin bertiup.

Kemudian kapal itu kembali berkata, ‘Lihat! Ada cahaya!’. Meski sejarah menyebutnya ilusi belaka, namun bagiku itu adalah petualangan nyata.~ – Nefertari Vivi.

 

Nefertari Vivi by ONE PIECE INDONESIA

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World