Nami

0

Berry, Berry, Berry, Okane wa Dai Dai Dai Daaaaiiisuki.

Kembali lagi bersamaku. Kali ini akan kukisahkan tentang sahabat terdekatku yang cantik namun licik. Si jeruk asam manis yang ceria, si pencinta harta, si kucing pencuri dari Cocoyashi.

Awal pertemuan kami adalah di pantai desa tempat tinggalku. Ah.. sedikit nostalgia jadinya. Tiga orang bajak laut datang ke desaku. 2 orang bodoh dan 1 orang wanita yang membawa setumpuk harta pada kapal berlambang tengkorak dengan hidung merah di tengahnya. Tatapan mereka sangat tajam. Insting mereka bagai hewan. Dan.. satu wanita licik ini membongkar rencana brillianku dan membuat 3 kru bajak lautku berlari ketakutan.

Ah.. sesal ku berburuk sangka. Rupanya mereka baik hati. Berjuang bersamaku yang baru saja dikenalnya satu hari. Masih teringat olehku bagaimana ia melindungiku saat bajak laut jahat itu hampir menebas kepalaku. Dia tak terlalu kuat namun cukup berani. Meski kulihat kakinya bergetar hebat.

Dari sanalah perjalananku dimulai dan kisah ini berawal. Di restoran tengah laut kami berhenti mencari seorang juru masak rekomendasi Johnny. Restoran itu bernama Baratie. Di sana banyak hal yang terjadi; pertarungan Zoro sampai diambang mati, pertarungan Luffy melawan penguasa East Blue. Dan yang paling utama disanalah kami bertemu dengan Sanji.

Dalam riuh ramai suasana sahabatku menghilang pergi. Berlayar sendiri menaiki Going Merry. Aku dan Johnny berusaha mencari. Lalu sampailah kami di sebuah bangunan tinggi dengan penjaga bengis yang membuat bulu kuduk berdiri. Aku mencoba menyelidiki makhluk apa mereka ini. Besar dan bersirip. Giginya pun seperti gergaji.

Sampailah aku di sebuah desa dimana atap rumah menghadap bumi. Kupikir ini aneh. Lalu seseorang memukulku hingga tak sadar diri. Mataku terbuka perlahan, pandanganku yang kabur mulai kembali dan kulihat seorang wanita cantik menawan hati. Senyumnya manis buatku gerogi.

Kubertanya padanya dan ia menjawab segalanya. Desa ini bernama Cocoyashi, tanah subur yang teramat sepi. Kutanyakan satu pertanyaan terakhir. Dia terdiam tak seperti tadi. Wajah menunduk menatap bumi. Air matanya menetes deras membuatku tak enak hati.

Akhirnya aku tahu bahwa dia bernama Nojiko, kakak dari sahabatku itu. Diceritakannya sebuah kisah yang mengguncang nurani. Tanganku memeras dadaku, seakan jantung ini berhenti berdetak mendengar kisahnya.

Ini adalah sebuah kisah lama dari seorang wanita gagah perkasa. Berperang tak pandang bulu, menyandang nama keadilan dipunggungnya. Namanya Bellmere, angkatan laut wanita yang gagah berani, menguji diri dalam perang suci, kembali ke kampung halaman bercucur keringat dan darah merah. Cocoyashi menyambutnya haru. Seorang anak kecil berambut biru tersedu. Cocoyashi menangis sedih melihat bayi kecil tak sadarkan diri.

Ditakdirkan hidup seperti lelaki dia menjelma menjadi seorang ibu sejati. Peran ayah baginya tak lagi berarti. Dia yakin dapat mengatasi. Nojiko adalah nama yang dia beri kepada kakak tertua yang baik hati. Dan Nami adalah nama yang dia anugrahi untuk bayi kecil yang gagah berani.

Ini kisah tentang jeruk masam dan wajahnya kusam.

Bertahan hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan, menggantung asa pada jeruk yang tak kunjung menua, keluarga kecil masih sanggup menebar tawa, menjadi pelita menjadi kepenjuru desa. Urung meringis ataupun menangis. Hadapi semua dengan senyum manis. Jeruk masam adalah berkah kehidupan. Wajah kusam tanda ketulusan.

Sejak dini menyandang julukan Si Kucing Pencuri, Nami. Sahabatku sangatlah dekat dengan ilmu. Perpustakaan dan toko buku jadi taman bermainnya, mencuri ilmu dari segala sudut kehidupan. Halaman demi halaman ia baca dengan senang. Walikota murka membencinya, memukulnya dan memakinya, tapi tak nampak wajah terluka, senyum bahagia selalu ia terima.

Ini kisah tentang jeruk mengkal yang gagal matang.

Hidup memang sulit diprediksi. Entah sampai kapan kita akan terus hidup dan entah kapan kita akan mati. Hari itu cerah tak berawan. Jeruk mengkal dipekarangan menyebar aroma kedamaian. Di lepas pantai kapal berdatangan. Makhluk besar rakus mencari makanan. Satu persatu rumah dirobohkan. Makhluk keji nan menakutkan dengan buas mengancam. Jeruk mengkal yang siap matang tak luput dari sasaran. Keluarga terancam dan ketakutan.

Ibu terbaik dengan segala kasih sayang menghadang monster besar dengan sebuah harapan : semoga putri tercinta baik – baik saja. Letusan pistol membuyarkan semua. Logam panas menembus perlahan, melewati rongga tubuh dari sang wanita tangguh. Gelak monster tertawa melihat seorang wanita terbujur ke tanah tak berdaya. Jerit seisi desa melihat pejuangnya telah tiada. Mata kedua putri bekaca – kaca. Rasa tak percaya memperdaya mereka. Seakan tak percaya, dihampiri jasad ibunya, hening suasana menahan duka.

Ibu tercinta telah tiada. Si putri kecil menjadi sandera. Kakak tercinta tak lagi sanggup berkata, terpatung di pintu tak tahu harus bagaimana.

Ini kisah tentang sepucuk tunas jeruk muda.

Si bungsu kecil yang tak berdaya diberi tanda gerbang neraka. Lambang mengerikan di lengan kirinya merubah mata seisi desa. “Pergi sana! Dasar anak tak berguna!” usir mereka pada si kecil yang belum mengerti apa – apa. Langkah kaki melangkah berat menjauhi surga yang menghidupinya.

Tunas kecil tumbuh melawan arah. Daun pertama tumbuh dari arah yang salah, tak seiring dengan mentari yang sejak dulu menyinari. Hari kehari duduk di depan meja, membuat peta penuhi napsu sang punya kuasa, tak terpikir untuk menangis. Hatinya telah lama mati bersama langkah kaki yang menjauh. Hari ke hari tunas kecilnya mulai tumbuh menjadi bakal pohon yang siap membumi. 100 juta harga yang harus dibeli. Surga tercinta dengan manis dan pahitnya. Jalanan gelap kini menanti, dunia kejam belenggu diri, tak dapat berontak melepaskan diri.

Pundi-pundi hasil mencuri, tak jarang hingga belumur darah dan kusam terkena tanah, ia kumpulkan di pekarangan rumah indah penuh kenangan. Sang kakak hanya bisa menatap iba melihat adiknya yang sedang berusaha. Berkali kali ia bilang agar berhenti. Sang adik tersenyum manis dan berkata

“Sabarlah, tinggal sedikit lagi.”

Seisi desa memalingkan wajah, melihat monster kecil nista yang penuh luka. Hati mereka banjir akan penyesalan, menelantarkan gadis pelita kesayangan. Ingin mereka berontak melawan, tapi gadis kecil mereka selalu berjuang, demi kebebasan yang dijanjikan.

Hanya aku dan Sanji yang mengerti. Kapten dan wakilnya malah asyik sendiri. Mungkin mereka jengah untuk mendengar alasan klasik yang bernama penderitaan.

Ini kisah tentang tunas muda yang mulai berbunga.

Kaptenku hadir membuka lebar pintu harapan, menjajikan kemerdekaan semu yang lama dipertaruhkan. Empat orang titisan surga tegak berdiri menyongsong jalan, membuka asa untuk sahabat yang terbelenggu di neraka.

Dikhianati oleh “janji” yang disepakati, keringat derita dikuras habis tak tersisa, Nami kecil kami menangis haru, mencoba bangkit meski hati menjerit.

“Semua bersabarlah. Aku pasti akan mengumpulkannya lagi.” ucapnya pada warga desa yang membecinya,

“Bicara apa kau? Lihat apa yang ia perbuat terhadapmu” kakaknya berkata.

“Tenang, masih sempat. Aku akan mengumpulkan 100 juta yang ia minta.” jawab sahabatku.

“Sudah hentikan, Na-chan!” warga desa bersuara. Suara yang menghilang beberapa tahun silam kini kembali menusuk telinga.

“Kau sudah berusaha. Demi kami, demi desa, demi semua. Maaf kami terdiam. Bukan kami ingin menikam, hanya kami takut kalau semua bertambah rumit. Kami biarkan kau menderita, menanggung kebebasan kami semua. Sekarang sudah tidak berarti apa – apa, Na Chan. Otsukare san Deshita.” jawab mereka seraya mengangkat senjata.

Sahabatku berlutut ke tanah. Lemas kaki tak mau bergerak. Sebilah pisau menemani, menghapus lambang neraka yang menyiksa diri. Darah mengucur begitu deras, mengantar derita dan air mata, menatap kami dengan nanar, menatap Luffy penuh harap, seraya berkata.

“Luffy, bantu aku…”

Dilepaslah topi jerami kesayangan kaptenku dari kepala, dipakaikannya pada sahabat tercinta, mengepal tangan, mengacungkan kelangit dan berkata.

“TENTU SAJA!”

Tunas jeruk muda kini mulai berbuah.

Di gerbang neraka kami mulai semua. Menghajar monster bengis sampai tak berdaya. Diambang derita dan sekujur tubuhnya yang terluka, satu persatu saksi bisu dilenyapkannya. Meja yang membelenggu terbelah sudah. Tinta dan pena yang mengikis bahagia tenggelam sudah. Lembar demi lembar peta daerah rata dengan tanah, bersamaan dengan hancurnya kekuasaan dan merebut kembali merdeka.

Cocoyashi telah kembali. Kampung halaman tercinta sahabat kami, kakak, walikota dan seisi desa tercinta berkumpul terisak haru bahagia. Masih kuingat kata kata kaptenku yang menggugah hati. Tentang yang dia yang tidak bisa berpedang, sering keliru menentukan arah, tak bisa memasak bahkan tak pandai berbohong. Murkanya meledak ledak. Pukulan membabi buta mempecundangi monster perkasa hingga tak berdaya di atas reruntuhan seraya lantang berkata.

“Nami, kau adalah temanku. Mari berlayar bersama!”

Suara lantang yang lapang meratakan segala batasan yang bertahun tercipta. Sekat-sekat kokoh tak lagi berguna. Kami menyatu mengharu biru. Anggukan mesra dan sepatah kata “ya” menjadi pertanda. Navigator tercinta sudah kembali kesamping sang nahkoda.

Malam itu telah terucap janji. Senyum kasih yang selalu dinanti. Nisan ibu yang menjadi saksi kaptenku berikrar dengan berani. Jeruk yang tumbuh tak lagi masam melainkan manis merata keseluruhan. Warnanya yang oranye menyala. Aroma khasnya yang menentramkan jiwa.

Ini adalah kisah pohon jeruk kecil yang berbuah lebat. Indah, manis, terkadang masam. Jeruk terbaik yang pernah kami miliki. Sahabat baik yang selalu menemani. Petualangan suka dan duka akan hampa tanpa hadirnya. Si pencinta harta dan segala kenakalannya.

Riang, gemuruh dan cerewet. Dari haluan ia memberi arahan, memastikan jalan sebuah petualangan. Tunas jeruk terbaik yang kami miliki, ombak besar yang kami andalkan, Navigator tercinta, si penyuka permata, sahabatku tercinta Dorobo Neko Nami.

 

Nami by Usopp

Admin ONE PIECE INDONESIA

 

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World