Iblis Dari Ohara

0

Kuharap kau tak bosan mendengarku bercerita, meski mulut berbusa dan wajahku membiru, kurasa tak akan cukup untuk meluapkan segala jeritan hatinya.

Awal kami berjumpa bak sebuah petaka, dia datang dengan tiba–tiba, tersenyum ramah dan renyah menyapa. Bersama sebuah ledakan ia datang, dalam kabut pekat ia menghilang.

Pertemuan kedua juga tak disangka, di padang pasir luas di tengah oasis, ia tersenyum manis dan sedikit sinis, menatap kaptenku yang sedang kritis.

Berganti topeng dan peran mudah baginya, menjadi wanita lugu sampai penjahat bukanlah hal baru, semua itu demi sebuah impian, impian terpendam para pendahulu.

Dia berkata tak punya tujuan, dia berkata tak punya tempat kembali, bahkan dia berkata bahwa ia hanya ingin mati. Awalnya kuanggap sebagai sebuah bualan atau gurauan, senyumnya yang simpul ditengah kesunyian, tak sekalipun memancarkan sebuah ketakutan.

Di gerbang dunia lalu kusaksikan, tangis jerit dari seorang wanita pendiam, mengalah dan menyerah demi 6 orang teman, pasrah akan kehidupan yang tak memberinya harapan.

Sial kuterlambat, dia yang kubenci ternyata berhati suci, ada keindahan dibalik semua topengnya, ada ketulusan dibalik semua perannya. Di balik topeng ini kumenahan sakit, mendengar sebuah perasaan yang berbelit.

Kukisahkan hidup sahabatku.

Lahir dipulau indah dan nyaman, yang mendapat julukan “negerinya orang berilmu”. Sejak dini ia berteman dengan buku, dikucilkan karena berbeda, dikucilkan karena berilmu. Sulit dia rasakan sejak ia dilahirkan, tumbuh besar tanpa sosok ibu,menajalani hidup dengan para jenius di perpustakaan itu.

Entah bagaimana ia bertemu dengan malam, entah apa yang ia impikan malam itu, ilmu yang dia pelajari justru mengutuknya, sejarah terlarang yang dianggap menghilang, terus terngiang dalam angan – angan.

Ilmu yang mengantar malapetaka, datang tiba – tiba tak bisa diduga, menggegerkan seisi desa, semua jenius dianggap bencana, menyeretnya kedalam dunia kejam yang menjelma menjadi keadilan.

“Dimana Olivia?” Keadilan bertanya.

Semua diam tak berdaya, entah takut atau enggan mejawab, mulut mereka terkuci rapat. Keadilan lalu pergi dengan hampa, tanpa jawaban meski sepatah kata. Tak lama sesudahnya, wanita cantik berambut putih datang menyapa, mengejutkan semua.

Sahabatku bertanya – tanya “siapakah gerangan dirinya? Begitu cantik dan mempesona. Seperti aku sudah lama mengenalnya”. Di dekatinya perlahan, si wanita melangkah menjauh, menatapnya dengan mata yang berkaca. Aku tak bisa lagi membayangkan rasanya, hatiku ini tak sekuat ia punya.

“Anda siapa? Mengapa aku merasa mengenalmu sejak lama, meski ini adalah pertemuan pertama?” sahabatku bertanya.

“Aku bukan siapa – siapa, hanya seseorang yang menyukai sejarah” jawab sang wanita.

“Benarkah? Jadi begitu ya. Yang kurasakan adalah cinta. Cinta kita yang sama terhadap kejadian di waktu lama.” sahabatku tersenyum gembira, namun kemudian si wanita menutup wajahnya, menundukan kepalanya seraya berkata.

“Robin, kau sudah pintar bicara, melihatmu tumbuh membuatku sangat bahagia, Hontou ni Yokatta.”

“Dochira sama desu ka? Siapa engkau sebenarnya?” sahabatku bertanya, tak ada jawaban darinya, hanya air mata yang mengalir deras dan pelukan hangat yang ia dapat.

Pelukan itu memberinya perasaan yang aneh, pertama kali ia rasa, begitu hangat dan nyaman, air matanya keluar dengan sendirinya, seorang ibu yang ia anggap tak pernah ada, kini hadir dengan segala keajaibannya.

Hangat dan bahagia ia rasa, meski dengan cepat maut memisahkan mereka. Sebutir peluru menghancurkan bahagia, senyuman keadilan memicu tangisan yang tak akan pernah padam selamanya.

Ini kisah sahabatku dan mimpi buruknya.

Mengenal sosok ibu yang sesaat menghantarkan bahagia, membawanya bertemu seorang raksasa bijaksana. Raksasa baik hati yang tak segan menyapa. Sesaat ia dapat sembuhkan luka, dari mimpi buruk sebuah keadilan, belajar bagaimana cara tertawa saat hati menjerit ingin menangis, raksasa yang bijak berubah wujud mejadi sahabat.

“Dereshishishi, Dereshishishi, Dereshishishi.” tawa riangnya terngiang di kepala. Si raksasa ramah dengan tawa lucunya, sesaat menjelma menjadi sosok indah, menjadi seorang ayah baginya.

Keadilan perlahan mendekat, para jenius satu persatu naik derajat, dari dunia menuju akhirat. Apa salah mereka? Tiada jawaban yang dapat menyangkal, ketika keadilan bicara soal kesalahan, siapapun tak punya kuasa menentang.

“Dereshishishi, Dereshishishi, Dereshishishi.” Raksasa bijak kini terbujur kaku, sekujur tubuhnya membeku, sedikit cahaya api sisa tragedi menyinari jalan lurus yang diciptakan seorang kerabat. Di dalam perahu ia menatap, haru biru menjadi satu, dihiasi debu bertebaran dari kampung halaman yang menyala.

Ohara menyalak merah menyala, jerit tangis tak mampu terdengar lagi dari sana, hangus hancur lebur tak tersisa, sekejap menghilang dari dunia. Sejak saat itu derita tiada henti menerpa, bocah 8 tahun yang merindukan keluarga, pergi menyendiri tak diinginkan dunia.

Tak kenal lagi apa arti kebaikan, tak kenal lagi apa arti ketulusan, kasih sayang, bahkan tak tahu lagi yang mana manusiawi yang mana keji. Dunia memperlakukannya selayaknya virus berbahaya yang mengancam semua, semua berawal dari sana, kisah legenda tentang sang Iblis dari Ohara.

“Dereshishishi, Dereshishishi, Dereshishi.” Ia coba menghibur diri. Ibu cantik dan raksasa baik senantiasa melindungi. “Hiduplah, Robin.” kata terakhir ibunya membuatnya bangkit, dalam deritanya ia menatap kami semua.

“Kenapa? Kenapa kalian tak mengerti juga?” ia bertanya,

“Kau adalah temanku.” kaptenku berkata.

“Aku hanya ingin mati di sini.” jawabnya memalingkan muka.

“Berisik! Katakan saja keinginanmu sebenarnya, katakanlah kalau ingin hidup” kaptenku murka.

Rasa takut dapat mengalahkan semua. Tapi ikatan kami lebih kuat dari apapun. Kami akan ciptakan cahaya meski dalam kegelapan. Kami akan lelehkan baja, bekukan lautan, meski dunia musuhnya. Kami tak akan mundur sedikitpun jika itu semua demi seorang teman yang berharga.

Kubakar bendera itu atas perintah kaptenku. Gila! Kami baru saja menantang dunia, menghanguskan keadilan yang lama membelenggunya. Lambang kekuasaan perlahan mengabu, menghilang dari pandangan, membiarkan cahaya yang dihalanginya masuk perlahan.

“Dengarkan Robin! Mungkin sekarang kau sendirian, tapi suatu hari kau pasti akan menemukan teman. Lautan begitu luas. Suatu saat pasti kau akan bertemu mereka yang akan melindungimu. Tiada seorangpun di dunia ini yang ditakdirkan hidup sendirian!” kata–kata si raksasa bijak terngiang dalam telinga. Air matanya mengalir begitu derasnya, menatap kami dengan iba.

“Kalau bisa aku mengatakan apa yang aku inginkan..” belum selesai ia berkata.

“Katakanlah! Semua menunggumu, ayo kita pulang, Robin!” kaptenku tersenyum.

“Kalau boleh. Aaa…Aaa.. Aak Aku ingin hiduup! Aku ingin hidup! Aku ingin hidup! Aku ingin hidup bersama kalian! Aku ingin mengarungi lautan bersama kalian” akhirnya kudengar jeritannya, jeritan hati yang selama ini kami nanti, tembok besar yang membelenggu kini tak lagi di sana, tak ada lagi batasan yang menghalangi ikatannya dengan kami semua.

Ini adalah kisah sahabatku. Seorang arkeolog yang mencari serpihan sejarah. Pendiam, dan sedikit menyeramkan bila bertutur kata. Kini si pendiam bisa tersenyum lepas, kini si pendiam mendapat tempatnya. Terima kasih Olivia, terima kasih Saulo kalian telah menjaga Robin. Robin kami semua.

Kuharap kini ia bisa menjalani hidup sebagai seorang manusia biasa, menghiasi petulangan kami yang penuh suka duka, menjadi bagian dari sejarah yang akan kami ciptakan bersama.

Tak lagi ia kedinginan, tak lagi ia kesepian, tak akan kami biarkan ia bersedih, ia adalah Nico Robin, si Iblis dari Ohara, temanku, sahabatku, orang yang selalu meminjami aku buku, orang yang mengajarkan pentingnya makna sebuah kisah padaku.

Kisah ini tentangnya dan negeri Ohara yang tak akan terlupa.

 

Iblis Dari Ohara by Usopp
Admin One Piece Indonesia
Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World