Coby

0

Minna,

Kali ini aku ingin bercerita sebuah kisah tentang sahabat dari sahabatku. Si ikan kecil malang yang terjebak diantara ikan ikan besar nan buas.

Awal kisah sedikit lucu. Ikan kecil memulai kisahnya karena keliru. Hendak memancing kelautan biru, namun berujung petaka yang datang tiba – tiba membuat termangu. Terdiam terpaku, badannya tak bergerak terbujur kaku. Keringat mengucur deras melihat tatapan ikan buas yang siap menyantapnya diatas perahu.

Perahu yang ia tumpangi rupanya berisi ikan – ikan besar dan buas. Kemudian dibawalah ia ke dalam dunia keras di pusaran air yang deras. Diperbudaklah ia bagai seorang kacung yang terapung diatas balok kayu kecil di lautan luas. Ingin ia berontak melawan nyata. Namun apa daya kuasa tak memberi jalannya.

Dua tahun berlalu. Ikan kecil terus bekerja dengan harapan besar yang mengganjal dalam dada. Bagai Cinderella malang yang menanti malam pesta. Malam kala pangeran jatuh hati padanya. Terus bekerja kala terbit mentari pagi hingga ufuk barat bersinar dengan merahnya. Menanti peri baik hati datang dengan segala kejaiban yang dianugerahkannya.

Dicaci dan dimaki adalah makanan sehari – hari. Si ikan kecil pesimis mulai meringis. Pukulan dan hantaman adalah nutrisi yang membuatnya bertahan hidup. Dia hidup dalam sangkar besar berlambang tengkorak dalam bendera hitam. Sampai hari itu datang tatkala takdir yang mengingat dan menyatukan.

Apakah kalian percaya akan benang merah yang disebut takdir? Kisah ini membuktikannya. Kala semu menjadi nyata, kala buram menjadi jelas, kala tangis menjadi bahagia.

Di kapal pesiar rampasan, di dalam tong minuman, akhirnya ia temukan seseorang dengan keajaiban. Peri yang selama ini ia nantikan. Tertawa renyah tak pikir panjang. Pertemuan pertama dengan seorang teman menghiasi indah kisah yang entah kapan akan berakhir.

Teman bodoh dan sembrono menyelamatkannya. Sirna sudah ketakutan yang mengikat dua tahun lamanya. Senyum lebar teman pertama yang membawanya hanyut dalam khayal. Mimpi besar yang dipendam perlahan menemui titik terang.

Singkat pertemuan memang menyesakkan. Tapi hati merasakan apa itu rasa yang melegakan. Dalam isak tangis cengengnya, si ikan kecil melambai tangan kepada teman yang membuka pintu harapan. Dermaga kecil menjadi saksi. Sekelompok pria putih hormat tegak pada bocah ingusan bertopi jerami.

Ini kisah tentang si ikan kecil baik hati.

Harapan kini sudah digenggaman. Mimpi terpendam muncul kepermukaan. Saatnya seekor ikan kecil berenang dilautan. Bekerja dan terus bekerja tiada beda dengan keadaan sebelumnya, tapi hilang semua beban ketakutan. Giat kerja keras dengan senyum bahagia dengan topi kecil berlambang camar biru yang perkasa.

Takdir menunjukan lagi kekuatannya. Benang merah yang diatur Kuasa memulai perannya, membawa si kakek tua bahagia kehadapannya. Tekad kuat si ikan kecil menggugah semangatnya. Diangkatlah si ikan kecil dari kolam kotor tak terurus itu. Bersama seorang teman ia dibawa kelauatan.

Berakit – rakit dahulu, berenang – renang ketepian. Si ikan kecil ditempa demi wujudkan mimpi dan harapan. Teman berlatih yang manja berubah menjadi buas tak berkasih. Si ikan kecil mulai kewalahan, menghadapi mimpi dan kenyataan.

Kakek tua tersenyum bahagia melihat dua orang anak manusia lemah yang tersiksa. Memar, berdarah dan lelah sudah bukan perkara. Semua dilalui untuk menggapai sebuah asa. Kakek tua bahagia sejenak berhenti tertawa. Teringat dua harapan yang ia gagal dapatkan di masa lama. Di menundukan kepala, menangis haru, melihat dua sosok lemah yang akan melanjutkan mimpinya.

Ini kisah pertemuan dua orang teman yang berbeda jalan.

Hari demi hari dijalani dengan perih perjuangan, demi kursi nyaman yang bernama jabatan. Disisi lain, teman pertama menjadi buas dan namanya melanglang buana. Si kakek tua mulai bergerak, menemui cucu tercinta yang sudah menantang dunia.

Di rumah kecil milik pembuat kapal nomor 1 di dunia menjadi pertemuan pertama setelah sekian lama tak berjumpa. Gerak gerik pendekar pedang menari, menebas kesatria putih selamatkan kawannya. Gerak cepat si bodoh yang membantu temannya, juga dua orang kawan yang menunjukkan perubahaannya.

Si ikan kecil berubah lincah, mengejutkan semuanya dengan sebuah sapa…

“Teman, lama tak berjumpa” ia berkata.

“Haa? Siapa kau sebenarnya?” teman bingung kembali bertanya.

“Ini aku, kawan lamamu, si Ikan Kecil tak berdaya” jawabnya.

“Ha.. jangan jangan…?”

Pertemuan haru dan menyenangkan dari dua kubu yang seharusnya berseteru. Tak ada lagi bendera putih atau hitam untuk sesuatu yang dinamakan teman. Bertutur sapa, bertanya kabar dan keadaan. Bunga pertemanan yang bermekaran tercium harum menentramkan jiwa si kucing yang dengan licik menguping pembicaraan.

Nostalgia yang indah dari dua orang yang kelak akan bertemu di jalan yang bersebrangan. Percakapan singkat yang sebenarnya enggan untuk diakhiri. Janji yang terikrar menjadi penutup manis perpisahan kawan abadi.

“Teman, apakah kau tahu mereka menyebut separuh lautan bahaya itu? Mereka menyebutnya dengan sebutan Shin Sekai. Disanalah teman yang hendak kau temui berlayar. Disanalah harta suci yang kau cari berada”.

“Suatu hari, kita akan bertemu di sana. Dan pada saat itu, aku sudah menjadi seorang yang besar!”

Janji suci terucap pada kawan yang berselimut musuh.

Ini kisah tentang ikan kecil pemberani.

Perang besar terjadi. Korban satu persatu berjatuhan. Hitam dan putih tak lagi terbentung. Darah dan teriakan mengacaukan pikiran. Terlihat teman lama berlutut kaku, memeluk orang tercinta dengan lubang di dada. Tak sempat ia menyapa, kawan lama tak sadar diri kehilangan kakak tercinta.

Samar terdengar jerit kesakitan pekakkan telinga. Sayup sayup derita menggema dari setiap sudut arena. Kontes kekuatan berakhir. Si terkuat mati dengan gagah berdiri, meski kehilangan separuh wajah dan lubang menganga di dada. Kata terakhirnya menggema, menghebohkan dunia. Harta sunyi tabu yang entah dimana, dinyatakan dengan lantang memang benar adanya.

Perang semakin mencekam. Hitam yang kehilangan semangat mulai berjatuhan, kala putih congkak tunjukkan kekuasaan. Si ikan kecil berani maju perlahan, kemukakan isi pikiran tentang apa itu keadilan.

Halangi atasan yang sedang menikmati pestanya, berlutut dan mengiba tuk hentikan semuanya. Pukulan panas hendak menghancurkan tubuhnya, kala ksatria merah datang secara tiba – tiba. Hentikan perang yang sudah berakhir sebetulnya.

“Anak muda pemberani. Semua tindakanmu akan mengubah dunia ini. Entah itu baik atau buruk, silahkan kau pikir sendiri”. ucap kesatria merah pada ikan kecil yang tak sadarkan diri.

Ini kisah ikan kecil yang tak lagi kecil.

Dapat mendengar sesuatu yang tak bisa didengar, dapat merasa sesuatu yang sulit dirasa, si ikan kecil menjelma menjadi seorang kesatria dengan lambang keadilan dipunggungnya. Si cengeng bodoh yang dulu penakut kini dihormati. Si lemah yang sangat payah kini di segani. Mengemban misi demi misi mendekati mimpi. Berusaha tepati janji suci pada kawan abadi.

Akankah mereka dipertemukan kembali? Atau benang merah takdir yang mengambil alih kendali?.

Entahlah. Yang aku tahu dia adalah orang hebat yang juga kaptenku sayangi. Coby kecil yang sedang mengasah diri, perjuangkan mimpi tuk jadi pemimpin sejati.

 

Coby by Usopp. Admin ONE PIECE INDONESIA

 

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World