Chapter 3 : Menu Latihan Ala Zeff Si Kaki Merah

0

Keringat bercucuran sebegitu derasnya dari dahi dan leherku. Bajuku kuyup oleh keringat. Aku merunduk memegangi lutut. Desau napas dan gemuruh jantungku tak karuan. Si Bangsat Tua ini lagi-lagi memaksaku berlari di sekeliling sirip Baratie yang berbentuk teras setengah lingkaran. Sudah 4 hari ini aku dilatih secara pribadi olehnya. Dia terus saja menyuguhiku menu latihan berupa peregangan, lalu kemudian berlari dan berlari hingga dupa sepanjang satu meter itu habis dimakan api.

DUAK!!! Si Bangsat Tua menendang pantatku dengan kaki kayunya. Aku terjerembab jatuh.

“Teruskan larimu!” bentaknya.

Aku bangkit. Kemudian berlari kembali. Aku berlari sambil terus melirik pada dupa yang berada di tengah teras. Dupa itu tinggal seperlima bagian. Akh … lama sekali api menunaikan tugasnya, batinku. Aku berharap angin laut berhembus kencang menerpa dupa, agar api lebih cepat melahapnya. Tapi si Bangsat Tua mengakalinya dengan memagari dupa dengan semprong kaca.

“Percepat larimu! Kau bahkan lebih lambat dibandingkan Bebek Entok!” Dia terus saja membentakku–yang dalam presepsinya itu merupakan kalimat motivasi.

Kuturuti maunya–dengan sebal.

Akhirnya dupa itu habis juga. Aku berjalan mengelilingi teras, mengkondisikan detak jantungku sebelum beistirahat. Setelah berjalan satu keliling penuh, aku meregangkan sendi-sendi tubuhku. Pendinginan. Begitu perintah si Bangsat Tua setiap kali selesai latihan.

Aku merebahkan tubuhku di teras. Membiarkan cahaya purnama mengguyur wajahku. Cahaya yang menenangkan sanubari. Si Bangsat Tua melemparkan handuk kecil ke mukaku. Aku bangkit duduk, mengelap bagian wajah, leher, dan tanganku dengan handuk itu. Kemudian ia menyodorkan sebotol air padaku. Aku menenggaknya. Menyegarkan! Dia duduk sekitar dua meter di sebelahku.

“Sampai kapan aku terus berlari seperti ini?”

“Sampai kau bisa berlari lebih baik daripada seekor bebek,” ketusnya.

Aku melenguh pelan. Ya, hari ini aku berhenti sekali. Tapi ini sebuah kemajuan. Pada latihan pertama aku berhenti hingga 7 kali. Malah di akhir latihan, aku muntah-muntah. Semakin hari, staminaku mulai terbangun. Sampai hari ini, aku hanya berhenti sejenak sekali saja. Aku bertekad, besok aku tidak akan berhenti sekali pun. Aku bosan dengan menu latihan ini.

“Berandal cilik. Jika kau sudah selesai dengan urusanmu, segeralah cuci muka dan tidur. Besok kita harus melayani pelanggan–seperti biasa!” Perintahnya. Begitulah rutinitasku empat harian ini. Pagi sampai petang melayani pengunjung, malam latihan.

Aku beranjak, kemudian masuk ke dalam ruangan kapal. Meninggalkan dirinya yang menatap lautan. Menatap jauh. Aku paham. Pasti dia tengah memikirkan mimpinya. Dengan kaki yang tinggal sebelah itu tentu saja mustahil baginya untuk menggapai mimpi terbesarnya–All Blue, lautan surga bagi para koki.

***

Esok malamnya, masih dengan menu latihan yang sama. Aku mampu berlari tanpa berhenti sejenak pun. Meski terkadang si Bangsat Tua meneriaki bahwa aku selamban kura-kura.

Malam latihan keenam, Bangsat Tua menyajikan menu latihan yang sedikit berbeda. Ia mengikat ban dengan karet, kemudian megebatkannya pada pinggangku. Berlari dalam kondisi seperti itu, tentu saja memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi.

Beberapa kali aku terjatuh, namun si Bangsat Tua terus meneriakiku agar tetap berlari.

Malam latihan ketujuh dan kedelapan masih dengan menu yang sama.

Ini adalah malam latihan kesembilan. Aku mengebatkan sendiri karet-ban ke pinggangku. Bersiap untuk berlari seperti sebelum-sebelumnya.

“Apa yang kau lakukan, Berandal Cilik?” tanyanya.

“Berlari seperti biasa,” jawabku mantap.

“Lepaskan ikatan itu. kemarilah,” pintanya.

Sepertinya menu latihanku malam ini akan sedikit berbeda.

“Ya,” aku mendatanginya. Bersedia menerima materi baru yang akan diberikannya padaku.

“Kutegaskan, Kau adalah muridku. Prinsip bertarungku adalah prinsip bertarungmu. Aku si Kaki Merah, pantang bagiku bertarung menggunakan tangan. Tanganku terlalu berharga untuk digunakan dalam pertarungan. Tanganku hanya untuk memasak. Mulai saat ini kau harus bertarung hanya dengan menggunakan kakimu. Aku akan mengajarimu semua jurus tendanganku!” Bebernya.

“Baiklah,” sahutku.

“Kalau begitu, pasang telingamu baik-baik! Kita mulai dari yang paling dasar,”

Aku memusatkan perhatianku kepadanya.

“Akh, aku lupa sesuatu,” gumamnya. “Pergilah ke ruangan utama. Di sebelah pintu ada patung kayu. Bawa ke mari!” sambungnya.

Aku melengos pergi. Seperti yang dikatakannya, aku mendapati sesosok patung kayu. Kayu Tambusu, kayu yang kokoh. Bagian atasnya persis seperti anatomi tubuh manusia, namun bagian bawahnya berbentuk bundar.

Apabila patung itu didorong ia akan berayun kedepan dan ke belakang akibat bentuk landasannya yang bundar. Pada bagian leher patung terdapat seutas tali. Aku menggeret patung tersebut menuju Pak Tua Zeff. Berat sekali. Kutaksir beratnya sama dengan seekor hiu martil remaja.

“Kita akan mulai dari 6 dasar serangan kaki,” terangnya.

Aku masih terengah-engah setelah menarik patung kayu itu.

“Apa gunanya aku membawa barang berat ini?” tanyaku.

“Maksudmu ‘Standing Kicking Bags’?”

“Ya.”

“Supaya otak payahmu bisa mengingat dengan jelas bagian mana yang harus kau tendang ketika bertarung,” terangnya.

“Angkat satu kakimu!”

Aku mengangkat kaki kiriku. Meluruskannya sampai berbentuk 90 derajat dari posisi tegakku.

“Bagian ini disebut Alpha,” ia menunjuk injit kakiku dengan stick yang dipegangnya–entah sejak kapan. “Ini Betha,”–piringan kaki. “Ini Gamma,”–tumit. “Ini …”

Aku goyah. Masih kesulitan menyeimbangkan tubuh. Kaki kiriku reflek kuturunkan agar tubuhku tak jatuh.

TUK, TUK! Kepalaku dijitaknya dengan kaki kayunya–yang dengan mudahnya naik turun tiap kali aku melakukan kesalahan.

“Pertahankan keseimbanganmu, Berandal Cilik!”

Aku kembali berpose seperti sebelumnya.

“Ini Delta,” dia menunjuk punggung kakiku. “Ini Epsilon,”–telapak kaki bagian tengah. “Dan ini Zeta,”–lutut.

Aku mengangguk-angguk, berantusias mendengar penjelasan Pak Tua. Pak Tua menutuk-nutukkan stiknya ke kakiku. Sebuah isyarat bahwa aku sudah boleh menurunkan kaki.

“Lalu soal lintasan tendangan,” dia mengerinyitkan pandangannya padaku, memastikan apakah aku masih tetap mendengarnya.

“Ya?” kataku sebagai tanggapan bahwa aku masih fokus mendengar penjelasannya.

“Pertama,”

WUTT! Dia menarik lututnya, dan menendang Standing Kicking Bags dengan cara menusuk lurus ke depan. Standing Kicking Bags berayun kedepan dan ke belakang.

“Jenis jalur serangan menusuk ke depan, disebut sebagai jalur Heng,” katanya. ” Atau seperti ini,” WUTT!!!

Dia memutar tumpuan kakinya 90 derajat ke kiri.

“Ini jalur Heng untuk tendangan Betha, Gamma, dan Epsilon,” tambahnya.

“Yang kedua jalur Hengzhe.”

WOOSH! Kaki kayunya menghantam bagian rusuk Standing Kicking Bags. Pijakan kakinya berubah 45 derajat ke kiri (pijakan lakinya kaki kiri), badannya condong dengan sudut zenit 60 derajat (sudut yang terbentuk antara posisi kepala ketika tegak lurus dengan posisi badan ketika melepas tendangan).

“Serangan yang cocok adalah tendangan Delta dan Alpha. Jalur ini juga dikenal sebagai jalur sabit,” terangnya.

“Yang ketiga jalur Henggou.”

Dia memutar badan dan menghantam bagian dagu Standing KickingĀ Bags.

WOOT! Bagian bawah patung kayu itu sedikit terangkat.

“Yang keempat jalur Dian.”

Kakinya terangkat tinggi, kemudian menghantam ubun-ubun patung kayu.

GRTTAKK! Patung tersebut terjungkit-jungkit, sampai hampir roboh.

“Yang kelima jalur Ti.”

Dia memutar pijakan kakinya 45 derajat ke kiri, tubuhnya condong dengan sudut zenith sebesar 100 derajat.

“Yang terakhir jalur Shugou,”

Dia merentangkan kakinya ke atas hingga kedua kakinya berbentuk sudut 180 derajat.

Aku terpukau melihat gerakan-gerakan indah si Pak Tua. Mengingat-ingat kembali materi yang diajarkannya barusan.

“Kau tidak perlu berusaha keras menghapal semua itu. Itu hanya sebuah perkenalan saja. Untuk latihan hari ini, kau cukup melatih satu tendangan saja,” terangnya setelah memerhatikan kegundahanku.

“Satu saja?” tanyaku.

“Kau pikir urusan menendang sama seperti urusan menghapal nama orang, hah?” Hardiknya. “Lebih baik kau hanya menguasai satu tendangan dibandingkan sekadar mengetahui jenis-jenis tendangan,” lanjutnya lagi.

Dan begitulah. Malam itu Pak Tua menyuruhku peregangan, kemudian lari 15 keliling sirip Baratie. Setelah itu, aku diperintahkan untuk menendangi Standing Kicking Bags dengan tendangan Alpha jalur Heng.

Malam yang panjang. Sudah seribu kali aku melakukan gerakan yang sama. Capek, tentu saja. Tak mengapa, aku hanya ingin bertambah kuat.

 

Chapter 3 : Menu Latihan Ala Zeff Si Kaki Merah

Oleh Sanji. Admin ONE PIECE INDONESIA

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World