Chapter 2 : Baratie

0

Terang menghampiri mataku yang terkatup. Memaksaku masuk pada dunia tempat berlangsungnya kehidupan. Ya, aku masih hidup, dan tempias cahaya lampu kamar menyadarkanku dari pinsan. Tangan kanan dan kiriku ditusuk oleh dua jenis belalai medis. Yang satu berisi cairan nutrisi makanan, yang satunya lagi berisi darah.

Dokter kapal menghampiriku. Tersenyum ramah padaku.

“Langit memang telah berbaik hati padamu, Anak Muda. Kau kekurangan cairan dan darah. Padahal darahmu adalah tipe darah yang amat langka, beruntung darahku sendiri sejenis denganmu. Beristirahatlah! Kau akan sembuh segera!” Kemudian ia meninggalkanku sembari berpesan pada suster.

Aku memikirkan si Bajak Laut. Bagaimana keadaannya? Dia menukarkan kakinya dengan seluruh persediaan makanan kami, agar aku menikmati semuanya. Bodoh! Tapi karena kebodohannya itulah aku masih bisa hidup.

Terjebak hampir tiga bulan di sebuah pulau karang adalah tragedi yang sangat memilukan. Lapar! Rasaku hanya dimonopoli oleh satu rasa itu! Aku bersumpah tidak akan membiarkan seseorang merasakan lapar jika berada di hadapanku.

“Suster, bagaimana keadaan Pak Tua itu?” Tanyaku pada suster bertubuh ramping yang menjagaku.

“Dia sudah melewati masa kritisnya, Adik Kecil. Dia akan segera siuman, tambahnya,” Suster itu menyunggingkan giginya. Manis sekali, gigi gingsul itu tampak cocok untuk wajahnya yang tirus.

Seseorang memasuki kamarku dengan tergesa-gesa. “Kakekmu sudah siuman, Dik!” Serunya. Seorang perawat laki-laki mengabarkan kondisi si Bajak Laut padaku.

“Terima kasih,” balasku.

***

“Yosh!!! Akhirnya datang juga!” Dia tampak puas dengan kapal yang baru saja dibelinya. Kondisi kami telah benar-benar bugar.

Kapal yang mengangkut kami dari pulau karang itu bagaikan oasis di tengah padang pasir. Ia memberi kami kehidupan. Bahkan mereka sama sekali tak menyentuh buntalan emas dan perhiasan yang dibawa Pak Tua. Sama sekali tidak! Berkat itu, Pak Tua bisa membeli sebuah kapal dan perlengkapan memasak yang memadai.

Seperti sumpahnya di Pulau Karang, ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan membuka restoran terapung di tengah laut. Restoran itu berupa sebuah kapal yang diberinya nama Baratie.

Baratie adalah segalanya bagi Pak Tua. Sebuah kapal dengan desain haluan berbentuk kepala Ikan Mas dan buritan berupa ekor ikan. Terdapat empat bagian utama; Lower Deck merupakan ruangan makan para pengunjung; Middle Deck merupakan dapur; Upper Deck adalah tempat kami–para koki– beristirahat; dan sirip yang bisa dilipat dan dibentangkan ke dua sisi kapal. Sirip ini berupa teras yang cukup luas. Biasanya digunakan Pak Tua sebagai platform pertempuran jika terjadi serangan dari bajak laut. Selain itu, sirip ini merupakan tempat Pak Tua melatihku dan beberapa koki Baratie. Pangsa pasar kami adalah bajak laut, jadi wajar saja jika Pak Tua mempersiapkan semua ini.

Kharisma Pak Tua memang bukan main. Dalam waktu seminggu semenjak datangnya Baratie ke tangannya, restoran telah stabil beroperasi. Ada 7 orang koki yang bekerja padanya. Aku salah satunya. Keenam koki yang lain adalah mantan bajak laut. Begitulah Baratie. Sebuah restoran terapung yang beroperasi di East Blue. Sebuah rumah ideal bagiku. Rumah yang membuatku lepas dari bayang-bayang kelam rumahku terdahulu.

 

Chapter 2 : Baratie by Sanji. Admin ONE PIECE INDONESIA

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World