Chapter 1 : 85 Hari di Pulau Karang

0

Aku adalah pria berharga diri tinggi. Lazimnya seorang pria aku memiliki prinsip-prinsip yang akan kujaga walau harus meringkuk menahan sakit, atau hancur lantas mati. Peduli setan dengan klaim-klaim orang, toh aku tak berkewajiban menjelaskan bahwa aku berdiri di atas kakiku sendiri, aku berupaya untuk menciptakan sebuah keorisinalitasan. Peduli setan dengan tudingan-tudingan orang, toh orang yang suka menuding merepresentasikan betapa dangkalnya pemahaman mereka atas sebuah kejadian.

Berbicara mengenai kejadian, aku telah berhutang budi pada seorang pria. Hal yang sangat ingin kuhindari. Namun takdir menggiring kami pada suatu pertemuan, yang tak akan pernah-pernah kulupa. Tak dapat kuelakkan, aku berhutang budi pada seorang Bajak Laut!

***

Siang itu cukup cerah. Sepasang awan putih bergerak beriringan. Yang satu bak siput keriput, yang satu lagi macam kura-kura renta. Lambat! Satu tarikan napas kemudian mereka telah disusul oleh sekumpulan pelikan. Pelikan-pelikan tersebut mengepakkan sayapnya yang kokoh dengan konsisten, terus mempertahankan posisi masing-masing. Mereka memang burung yang acap kali bermigrasi. Tak hanya lintas pulau, lebih dari itu, lintas negeri! Hei!? Kenapa aku bisa melihat pelikan? Seingatku … akh! Kepalaku sakit untuk mengingatnya.

“Berandal cilik, kau sudah sadar rupanya? Nasibmu memang bagus.”

“Bajak laut … aduh!” Aku mencoba untuk bangkit, namun sekujur tubuhku ngilu, sepertinya beberapa tulangku patah.

“Bodoh! Kau tak akan dapat bergerak. Memangnya kau pikir siapa yang menendangmu?”

Aku jadi ingat sepotong kejadian sebelum aku tak sadarkan diri.

***

Aku mendengar hiruk pikuk penumpang di dek kapal. Ada bajak laut yang sedang mendekati kapal kami.

“Itu kapal Zeff si kaki merah! Apa mereka baru kembali dari Grand Line?” Teriak seorang penumpang tak karuan.

Aku mengintip dari balik dapur. Tampak bendera dengan gambar kepala bebek dengan topi koki dan gambar pisau dan garpu yang bersilangan dibelakangnya. Sekejap kemudian kapal itu menambat ke kapal pesiar kami. Para awak kapal bajak laut tersebut berlompatan ke kapal kami. Kapten mereka berjalan penuh intimidasi, sejurus kemudian dia telah berada di kapal Orbit.

Badannya kekar, jubahnya terselempang di badan itu. Ia tak terlalu tinggi, sekitar 180 cm mungkin. Matanya agak sipit, kumisnya panjang macam akoh-akoh dari negeri bamboo, panjang dan berdiri.Rambutnya tidak gondrong meskipun tak terawat.

“Rupanya anda kapten Zeff si Kaki Merah, a … ada perlu apa?” Kapten kapal Orbit mencoba untuk tetap tenang, meski kutau kedua lututnya bergetar dengan hebatnya, menahan rasa takut.

“Ambil!” komando Zeff pada anak buahnya. Ia tak menghiraukan perkataan Kapten orbit.

Anak buah Zeff bersorak sorai kegirangan. Mengambil dengan paksa perhiasan dan uang dari para penumpang. Menggeledah ruang penumpang, mengambil barang berharga yang ada. Menghantam siapa saja yang mencoba untuk melawan.

“Hei, tunggu dulu! Apa ini?” Zeff menunjuk bungkusan yang dibawa oleh salah satu anak buahnya.

“Maafkan aku kapten, aku hanya sedikit lapar ….” Anak buah yang dimaksud gelagap ketakutan.

Duagh!!! Orang itu terpental sejauh 5 tombak. Ditendang oleh sang kapten. Darah keluar dari hidung dan mulutnya.

“Ugh ….” Orang itu meringis kesakitan.

“Bukankah sudah kuperingatkan, jangan pernah menyentuh persediaan makanan orang lain!!’ Zeff mencengkram kepala anak buahnya sambil berujar tepat di telinga anak buah malang itu.

Dua orang anak buah Zeff mendatangi dapur. Aku mengambil dua buah pisau yang cukup besar. Aku tak akan membiarkan mereka sejengkalpun memasuki dapur kapal. Kuhadang mereka dengan dua pisau teracung. Sejurus kemudian aku menyerang mereka sambil berteriak marah. Salah satu dari mereka terkena sabetanku. Mereka mundur ke dek kapal sambil cengar-cengir. Meremehkanku.

“Hei bocah, jangan mengayunkan benda berbahaya itu ….”

“Ya, lihatlah! Tanganku berdarah nih, duh sakitnya” Seseorang yang terkena sabetanku mengolok-olokku.

“Diam!! Jangan pikir kalian seenaknya berbuat di kapal ini” Aku memelototi dua orang bajingan itu.

“Hentikan Sanji! Jangan lawan mereka!” Pak Kobe, salah satu koki kapal berseru khawatir.

“Nak, jangan lakukan itu” Seorang penumpang kapal ikut khawatir.

“Kalian! Lakukan sesuatu! Dia kan koki kalian” Seorang penumpang lainnya berseru pada kapten kapal.

“Hentikan Sanji! Jangan mencari masalah dengan Bajak Laut, kau bisa mati!” Kapten kapal berteriak di seberangku, khawatir.

“Kalau bocah itu begitu ingin mati, bunuh dia!” Kali ini Zeff si kapten bajak laut bertitah pada anak buahnya.

“Siapa yang bilang aku ingin mati? Aku akan membunuh kalian lebih dulu” Aku benar-benar telah kehilangan rasa takutku. Aku benci sekali mereka.

DUAGH!!!

Sebuah tendangan mendarat telak di perutku. Aku terpental sejauh 7 tombak. Sepasang pisau yang kupegang terlepas jatuh. Sakit sekali! Rupanya Bajak Laut itu tak main-main menghajarku. Aku masih sadar, namun tak dapat berdiri. Sekujur tubuhku nyeri. Yang terlintas di benakku saat itu adalah, aku harus melukai Kapten Bajak Laut itu, meskipun harus mati.

“Sanji” Para koki reflek berteriak panik.

Aku tak peduli, aku merangkak menggapai Zeff. Dia berdiri menatapku dengan pongahnya.

“Kelak aku akan menemukan All Blue!” Entah kenapa kalimat itu yang terucap dari mulutku. Lalu kugigit kaki Zeff sekuat tenaga. Dia sama sekali tak bergeming, namun ada yang ganjil dari tatapannya.

“Buahahahaha! Pergi ke All Blue? Dasar bocah pemimpi”
“Katakan padanya kapten, bahkan dia tak akan mampu mencapai Grand Line! Wahahahahaha”

Sontak suasana di atas kapal riuh oleh gelak tawa anak buah Zeff. Mereka menertawakanku. Memang tabiat manusia, suka sekali menertawai impian seseorang. Memangnya itu lucu ya? Rendahan sekali selera humor mereka.

ZUNG!!

Tubuhku kembali terlontar. Sekali lagi kepalaku menghantam dinding ruangan penumpang. Aku tergeletak tak berdaya. Aku tak menangis, tapi langit lah yang menangis. Hujan semakin lebat saja.

“Aku tak sudi mati di sisni. Apalagi oleh bajak laut rendahan seperti kalian …”

WOOSH!

Tiba-tiba aku tersapu oleh badai. Aku terlempar keluar kapal. Cuaca pada pagi ini benar-benar ekstrim. Aku tenggelam, sulit bagiku berenang dalam kondisi badan remuk begini. Sebelum kesadaranku hilang, kulihat seseorang menggapai tubuhku.

***

“Kedua kapal telah hancur dihantam badai, sepertinya hanya kita berdua yang selamat. Ini hari kedua sejak badai, dengan kata lain kau dan aku terjebak di pulau karang yang gersang ini. Tidak ada buah atau hewan. Di laut memang ada ikan, tapi karang ini telah terkikis oleh gelombang. Sekali kau turun kau tak akan bisa kembali lagi. Kau pasti ingin menangis kan?”

“Tidak!! Semua ini salahmu. Kubunuh kau!!”

“Tutup mulutmu! Sebagai gantinya, akan kuberi kau persediaan makanan”

Aku melihat dua buah karung yang dijinjing oleh Zeff. Satu besar, yang satunya lagi kecil, sekitar seperempat bagian dari yang besar. Zeff berjalan mendekatiku yang tersandar pada batu.

“Ini bagianmu” Zeff meletakkan karung kecil di hadapanku.

“Jumlahnya cukup untuk porsi normal selama 5 hari. Berhematlah dalam mengkonsumsinya. Untung kau seorang koki”

“Tunggu! Kenapa bagianmu jauh lebih besar!?”

“Tentu saja … aku kan orang dewasa. Ukuran perutku lebih besar juga.

Tapp! Zeff meletakkan kakinya di kepalaku.

“Dalam keadaan seperti ini, lebih baik kita berkawan sampai bantuan datang”

“Bedebah tua …” aku menggeram.

“Jangan manja. Kau tinggal di sini, aku akan pergi ke sebelah sana agar bisa melihat sisi laut sebaliknya. Beritahu aku kalau ada kapal. Sampai saat itu, kita tak akan saling berhubungan, karena hanya akan membuang energy. Berdoalah semoga kau beruntung” Zeff meninggalkanku, pergi ke sisi pulau karang lainnya.

Satu hari berlalu. Aku mati-matian menahan keinginanku untuk membuka karung makanan. Di hari berikutnya kubuka karung itu. Zeff bilang itu adalah porsi makanan untuk 5 hari, tapi aku berencana untuk memperpanjangnya. Kupilah makanan itu sesuai dengan jenisnya. Ada buah-buahan, ada roti, ada keju, ada daging, ada sayur, ada kacang. Makanan yang mudah membusuk akan kumakan lebih dulu. Jika aku berhemat dengan memakan segenggam makanan setiap harinya, maka persediaan ini akan habis dalam waktu 20 hari. Yosh! Aku akan selamat.

Hari ketiga sangat berat. Aku telah memakan jatah makananku hari ini, tapi perutku masih saja meminta lebih. Kuminum tadahan air hujan di cekungan karang. Tak cukup. Tanganku bergerak menuju karung makanan, aku memukul dengan tangan lainnya. Kugigit tanganku agar berhenti. Kupukul dada dan perutku agar berhenti protes.

Hari kelima hujan. Aku melihat kapal di kejauhan. Aku berteriak-teriak tak karuan, tapi sepertinya hujan menghambat perambatan suaraku. Kuhidupkan api sebagai sinyal permintaan tolong. Tapia pi tak kunjung menyala, tertimpa air hujan. Sial! Sialan!!! Kapal itu semakin menjauh, kemudian hilang.

Hari keenam, aku mulai terbiasa dengan porsi makanan yang telah kutetapkan. Aku tak banyak bergerak agar energy dari makanan itu tidak terbuang sia-sia. Hari ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan seterusnya. Pipiku telah cekung, otot-otot mataku seperti menonjol.

Hari ke 25. Masih ada sepotong roti yang tersisa. Roti terakhir. Roti itu telah jamuran, rasanya pun entah lah. Sejak dua puluh hari yang lalu aku sudah tak peduli dengan rasa makanan. Yang penting bisa dimakan.

Aku teringat kelakuan para koki orbit, kapal yang dibajak oleh si bangsat tua itu, tempatku belajar menjadi koki. Aku tak dapat menerima kelakuan mereka yang memakan sisa makanan tamu. Kata mereka, aku tak sepenuhnya menjadi koki jika menyia-nyiakan makanan yang masih dapat dimakan, meskipun itu sisa makanan para tamu. Dari mereka juga aku mengetahui adanya lautan surga All Blue.

Ah!! Roti terakhirku jatuh ke laut. Sialan! Aku lapar. Lapaaaaaar! Pandanganku berkunang-kunang. Aku memilih untuk tidur.

Hari ke 30 aku hanya duduk bersidekap. Dalam diam aku terus menghibur diri dengan harapan. Mereka akan datang. Aku akan selamat. Hari ke 50 hujan, aku membuka mulutku agar air masuk. Tak banyak membantu untuk menghilangkan laparku, tapi cukuplah untuk bertahan hidup. Aku bahkan pernah memakan tanah, tapi perutku menolaknya. Aku muntahkan kembali. Lapar ini memang sangat menyiksaku.

Hari ke 70. Badanku tinggal kulit dan tulang saja. Aku tak ingat lagi bagaimana rasanya kenyang. Benakku hanya dipenuhi rasa lapar. Aku penasaran dengan keadaan si bangsat tua itu.

Kuintip si bangsat tua dari balik batu. Dia masih hidup. Ia tampak sedang mengamati laut di tepian karang. Dan … ternyata bekal makanannya masih banyak. Aku akan mencuri bekal makanan bangsat tua itu. Dengan pisau teracung di tanganku, aku berjalan mengendap-endap, lalu kurobek karung makanan si bangsat tua itu.

ZRASH!!! TRANG, TRANG TRANG!!!

Isi karung berhamburan keluar. Tapi … apa ini?? Kenapa isinya hanya emas dan perhiasan?

“Sudah kubilang, jangan hubungi aku sampai ada kapal yang lewat”

“Kenapa taka da makanan di karung ini? Jangan-jangan kau …”

“Padahal aku punya banyak uang, tapi tidak bisa makan. Benar-benar sebuah ironi”

“Hei … Mana makanannya? Bagaimana kau bisa hidup sampai saat ini? Bukankah …” Kalimatku terhenti ketika melihat keadaan tubuh si bangsat tua itu. Otot-ototnya yang kekar dua bulanan yang lalu kini tinggal kulit, dan … Asataga!! Kakinya!? Seketika aku terduduk melihat pemandangan itu. Kaki kanannya telah hilang. Seingatku dua bulan yang lalu, kaki itu masih memijak kepalaku, seingatku dua bulan yang lalu dia berjalan meninggalkanku menuju sisi karang di sini.

“Ke … ke … kenapa dengan kakimu? Kau … Kau MEMAKAN KAKIMU SENDIRI?”

“Ya …”

“Bukankah kau tak bisa menjadi bajak laut setelah semua ini?”

“Ya …”

“Kenapa …? Dasar bodoh! Padahal aku ingin membunuhmu! Padahal aku ingin melupakan kenyataan bahwa kau pernah berbuat baik padaku! Kenapa …?”

“Karena kau dan aku punya impian yang sama!”

“All Blue? Bukankah anak buahmu bilang bahwa itu tidak ada? Bukankah lautan ajaib yang diimpikan oleh para koki itu hanya bualan belaka? Bukankah tempat di mana ikan-ikan yang berasal dari keempat samudera berkumpul itu tidak pernah eksis?”

“Ada! Begitu saatnya tiba pergilah ke Grand Line dan cari tempat itu. Selama setahun pelayaranku, aku tak berhasil menemukannya. Tapi kuliahat ada kemungkinan bahwa tempat itu benar-benar ada. Sekarang, aku telah kehilangan teman-teman bodohku yang tak percaya adanya All Blue, meskipun mereka sangat menyenangkan. Ditambah lagi aku telah kehilangan kakiku. Kare …”

BRUK!

Si bangsat tua jatuh terkapar.

“Laut memang begitu luas! Dan kejam. Di lautan yang luas ini entah berapa banyak orang yang mati karena kutukan ini. Kutukan Lapar! Jadi kupikir … kalau saja di tengah lautan ada restoran … pasti aku akan dapat menyelamatkan sebagian orang dari kutukan ini”

“Maksudmu kau ingin mendirikan restoran?”

“Benar … Jika saja aku bisa meninggalkan pulau karang ini dengan selamat, akan kuhabiskan sisa hidupku untuk mendirikannya!”

“Oke!! Aku akan membantumu. Tapi kau tidak boleh mati!!”

“Huh, memangnya apa yang bisa dilakukan berandal cilik lemah sepertimu …?”

“Aku akan jadi kuat!!!”

Hari ke-80 aku dan bangsat tua telah benar-benar tak punya tenaga. Kami hanya bisa berbaring. Menunggu ajal atau pun keajaiban. Pernah sekali terdengar peluit kapal. Aku mencoba berteriak. Tapi suaraku yang keluar begitu lemah. Bangsat tua telah pinsan saat itu.

Pada hari ke-85, akhirnya ada sebuah kapal yang merapat ke pulau karang kami. Saat itu mataku sudah tak terbuka lagi. Aku hanya mendengar suara orang-orang. Tuhan telah menyelamatkan kami. Kami dan harta karun milik bangsat tua diangkut ke atas kapal.

 

Chapter 1 : 85 Hari di Pulau Karang by ONE PIECE INDONESIA

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World