Chapter 01 : GOD Usopp!

0

Dua tahun telah berlalu, koran pagi itu dihebohkan oleh berita kemunculan kembali “Mugiwara”. Pagi itu ramai tidak seperti biasanya, orang – orang desa memegang koran sambil menopang dagu mereka. Terlihat mereka sejenak berpikir sambil menatap jeli koran itu. Kulihat ayahku juga serupa, dia berdiam lama sambil menatap lembaran koran tanpa mengganti halamannya.

“Hoy, Tamanegi, kemari sebentar.” panggil ayah.

“Ya, ada apa, ayah?” jawabku.

“Anu..hm.. tentang berita ini, kau ingat Mugiwara yang menghancurkan Enies Lobby?” tanya ayahku.

“Ya, tentu saja, itu bajak laut yang pernah mampir ke restoran di desa ini.” jawabku sekenanya.

“Ah, benar yang itu. Menurut berita ini, mereka yang telah menghilang 2 tahun, akhirnya berkumpul kembali.” terang ayahku.

“Benarkah? Lihat, aku ingin lihat, aku pinjam korannya!” girangku sambil merebut koran dari tangannya.

“Hoy, hoy tenang sedikit, aku belum selesai bicara.” timpal ayahku.

“Bicara? Memang apa yang ayah ingin bicarakan?” tanyaku.

“Hm.. begini…..” dan ayahku pun selesai bicara.

Waktu berlalu ke beberapa minggu setelah kejadian pagi itu. Dunia kembali gempar, karena di dunia baru, kerajaan Dressrosa dinyatakan waspada. Pertarungan antara 3 orang dari Generasi Terburuk melawan salah satu Shicibukai akhirnya berakhir.

Dengan semangat, kubawa koran itu menuju markas. Ada yang aneh dengan desa ini, semua warga terlihat ceria, pagi ini sangat sibuk tidak seperti biasanya.

“Hoy, Tamanegiiii, hoooiii!” terdengar suara Piiman berteriak memanggilku.

“Piimaaaan, Piiman kah? Kau di mana?” timpalku.

“Kesini, lihat ke atas!” jawabnya.

“Sedang apa kau di atas sana?” tanyaku pada Piiman yang sedang berdiri diatap rumah warga.

“Cepatlah, kemari, Ninjin juga sebentar lagi ke sini.” jawabnya singkat.

“Ah, dasar..” umpatku sembari memanjat tangga. Anehnya tidak ada warga yang memarahi kami. Semuanya sangat ceria, mungkin akan ada pesta rakyat atau semacamnya pikirku.

“Tamanegi, lihat, lihat!” sambut Piiman kegirangan.

“Apa sih? Sebenarnya ada apa?” tanyaku.

“Lihat ke sana!” perintahnya.

“Haaaaa? Sebenarnya? Apa yang tela…”

“Ini pesta, untuk kapten!” timpalnya sebelum selesai aku berbicara.

“Pesta? Kapten? Mungkinkah?” kataku berseri-seri.

“Bodoh! Kapten tidak akan pulang dalam waktu dekat!” tiba – tiba Ninjin datang sambil memukul kepalaku.

“Aw.. sakit sakit sakit.. lalu ini pesta apa?” tanyaku padanya.

“Ayo, kita turun, dan ikut aku!” kata Ninjin.

Kami bertiga akhirnya turun, dan berjalan menuju pusat desa. Di sana telah berkumpul banyak orang, hampir semua warga sudah berada disana. Melihat kami berjalan mendekat, semua mata tiba – tiba menuju ke arah kami. Sejenak aku teringat perkataan ayahku beberapa minggu yang lalu.

“Tamanegi, maafkan ayah dan ibu. Tentang kejadian 2 tahun lalu. Maafkan, kami tidak tahu kalau anak itu dan Mugiwara telah mengusir bajak laut yang hendak membunuh Nona Kaya. Juga tentang Kurahadol yang sebenarnya adalah seorang bajak laut yang kejam. Aku tahu ini terlambat, tapi percayalah, Anak itu bukanlah orang yang jahat, dia memang pembohong, tapi anak itu adalah orang yang baik.”

“Wa… benar – benar ya, ayah dan anak sama sama seorang bajak laut, tapi syukurlah dia baik-baik saja.”

“Kau sudah baca? Hebat bukan, si Yassop itu benar-benar memiliki anak yang hebat!”

“2 tahun yang lalu aku masih berlari mengejarnya dengan membawa gagang sapu, tapi sekarang dia sudah mengejar mimpinya, semoga dia bertemu dengan si Yassop itu!”

“Si pembohong tengik itu sekarang adalah bajak laut yang hebat! Aku bingung harus kesal atau bahagia.. aaah siaaalllan, aku merindukanmuuu!”

Sayup terdengar obrolan warga desa, wajah Ninjin dan Piiman memarah. Mereka tersenyum bangga, karena memiliki kapten yang hebat. Aku masih belum mengerti situasi sebenarnya, apa yang sebenarnya terjadi. Terlihat Nona Kaya juga hadir di sana, lalu kami hampiri dia untuk bertanya.

“Selamat pagi, nona!” sapa kami.

“Selamat pagi, kalian bertiga.” jawabnya.

“Nee… Sebenarnya ini acara apa? Kenapa semua terlihat gembira?” tanyaku.

“Araara… apakah kalian tidak membaca berita pagi ini?” dia balik bertanya.

“Sudah kok! Hebat! Mugiwara mengalahkan Doflamingo!” jawab Piiman.

“Apakah kalian tidak melihat pos…”

“Hm.. cek cek.. minna sama, terima kasih sudah berkumpul di sini.” Merry san memotong obrolan kami lewat pengeras suara.

“Seperti yang kalian tahu, tentang berita pagi ini, diharapkan semuanya untuk melakukan persiapan pesta nanti malam, di halaman rumah Nona Kaya…”

Merry san berbicara panjang lebar, tapi Nona Kaya malah mengajak kami ke markas rahasia. Selama perjalanan, wajah Piiman dan Ninjin begitu ceria, aku hanya bisa pasrah penasaran karenanya.

“Nona, bisakah kau memberitahuku apa yang terjadi?” tanyaku.

“Ara, jadi kau belum tahu juga, Tamanegi?” jawabnya.

“Belum, dari tadi mereka berdua hanya tertawa ketika aku bertanya” kataku kesal.

“Ma.. Ma… sabar saja, nanti juga kau akan tahu kok.” timpal Ninjin.

Sesampainya di markas rahasia, mereka berdua menatapku. Aku hanya menanti mereka berdua mengungkapkan apa yang terjadi, sementara Nona Kaya menatap kami dengan senyum penuh arti.

“Yoshaa… Taraa…” Ninjin mengeluarkan sebuah poster.

“Eh? Itukan poster Sogeking, memangnya ada apa dengan poster itu Ninjin?” tanyaku.

“Shishishi… ini adalah poster kapten yang aku temukan di lemari ayahku! Dia menempelnya di sana!” katanya bangga.

“Jadi ini yang kau rahasiakan sedari tadi? Yaampun kukira ada apa.” jawabku lemas.

“Shishishi.. kalian berdua payah, lihat ini!” kata Piiman mengeluarkan sebuah buku.

“Buku? Sejak kapan kau tertarik dengan buku?” tanyaku.

“Ha.ha.ha, ini bukan buku sembarangan, ini adalah… taraaaa.” jawabnya sambil memerkan potongan koran berisi berita tentang Mugiwara.

“Ayahku ternyata penggemar Mugiwara, dan dia juga tahu kalau kapten berlayar bersama mereka, hehehe.” lanjutnya bangga.

“Hihihihi, jadi kalian semua belum tahu ya?” tiba-tiba Nona Kaya bertanya.

“Belum, memangnya masih ada lagi?” tanya Ninjin.

“Hm.. Baiklah kalau begitu, ini, hadiah dariku, ini sengaja kami semua pisahkan agar kalian tidak melihatnya. Ini adalah hadiah kejutan dariku dan warga desa.” jawabnya.

“Nanti malam, kami semua warga desa akan mengadakan perayaan untuk keberhasilan dia mendekati mimpinya, jangan lupa datang kerumahku ya!” kata Nona Kaya sambil tersenyum bahagia.

Nona Kaya memberikan kami gulungan kertas masing – masing satu. Dari warnanya kami tahu kalau itu adalah poster buronan.

“Jangan terburu -buru, buka dan lihatlah.” katanya tersenyum.

Kami pun perlahan membukanya, dan…

“Ha..ha..ha..hahahahaha ini sungguhan bukan? Ini bukan mimpi kan?” tanyaku.

“hoi, a..apaa kalian melihatnya?” tanya Ninjin.

“Hm..” jawabku dan Piiman.

“Ini nyata kan? Ini nyata kan? Hoy tampar aku, Nona Kaya ini nyata bukan?” tanya Piiman sambil medekati Nona Kaya.

“Tentu saja” jawabnya sambil tersenyum.

“Kapten, kapten kapten kapten… Huaaaaa.” kami bertiga pun menitikan air mata, melihat poster baru itu, di sana dengan jelas tertera namanya,tidak lagi bertopeng, tidak lagi nama samaran.

Dicari, Hidup atau Mati, Hadiah 200 Juta Berry, GOD USOPP!

 

Chapter 01 : GOD Usopp! by ONE PIECE INDONESIA

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World