Brook

0

Yohohohohohohoho…. Watashi Desu!

Ah.. Nami-san. Bolehkah aku melihat celana da……. *Plaaak!!

MANA BOLEH!!

Yohohohohohohohoho….

Di tengah kabut pekat kubertemu dengannya, pendekar bersenandung yang tidak punya sopan santun. Tertawa lantang sedikit menyeramkan, bayangannya hilang, hanya tersisa tulang – belulang. Beberapa menit mataku mulai terbiasa, sosok menyeramkan ternyata bisa tertawa riang, penuh canda dan kekonyolan.

Suasana makan malam kala itu sedikit berbeda. Masakan serba gurita buatan koki tercinta, tamu istimewa yang tak terduga, riuh gemuruh kapten tertawa, mendengar guyonan biasa dari tengkorak hidup yang baru dikenalnya. Kentut dan sendawa seenaknya, makanan berserakan kemana – mana, tamu ini lebih dari istimewa. Ia sudah menyatu begitu saja, seakan dia adalah kawan lama.

Awal pertemuan penuh curiga. Si Tengkorak riang dan lautan gelap nan senyap, hidup sendirian di tengah kegelapan. Mengarungi lautan separuh abad yang lalu, hidup seperti bangkai yang terbengkalai. Tiada teman bicara, tiada yang bisa diajak tertawa. Dalam suasana langit pekat, air matanya deras berderai.

Kami adalah manusia pertama yang tidak berlari melihatnya. Kami adalah manusia pertama yang menerima ia apa adanya. Kami adalah yang pertama yang memberi kehangatan pada setiap sudut tulangnya. Dari takut menjadi terbiasa, dari risih menjadi kasih. Kalau boleh diungkapkan, kemampuan ia memikat hati memang sulit untuk ditandingi.

Dalam jamuan malam ia bercerita tentang hidupnya yang penuh canda tawa. Perlahan suasana mulai hening. Sepenggal kisah pahit sedikit mengganjal logika.

Luffy san. Terima kasih telah mengajakku menjadi temanmu. Namun dengan berat hati aku tak bisa. Aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku tak akan bertahan diluar kegelapan.”

Yohohohohohohoho. Yohohohohohohoho.

Ada perih di balik tawa. Riang gembira bertabur luka. Kehidupan kedua yang didamba malah membawa petaka dan derita. Yomi Yomi No Mi yang mengutuknya, membawa jiwanya kembali kedunia. Setahun penuh mencari jasadnya, jiwa tersesat tak kunjung jumpa. Segalanya serba terlambat. Jasad yang dinanti sudah lama mati. Tubuhnya membusuk tiada tersisa. Hanya tulang belulang dan rambut Afro yang disisakannya.

Ini adalah kisah setengah abad yang lalu, tentang bajak laut periang dan suka pesta.

Di tanjung kembar mereka berjumpa. Di balik gunung merah pemisah dunia. Berteman dengan seekor mamalia, paus kecil lucu yang selalu tertawa. Laboon, itulah namanya. Si bayi kecil yang suka bernyanyi, mendengarkan alunan nada gembira di tengah pesta, menari riang selayaknya manusia.

Perpisahan kadang datang tak terduga. Laboon kecil melihat kawannya pergi begitu saja, melambai tangan dari kejauhan. Ujung tiang kapal perlahan menghilang. Lima tahun sudah ia di sana, menghadap gunung menunggu kawannya.

Bajak laut periang tak pernah menyangka, mengumbar janji yang sulit untuk ditepati. Belum separuh jalan mereka pergi, pelayaran terhenti akibat tragedi. Kapten tercinta meronta, kesakitan yang dirasa perlahan mengikis semangatnya. Sahabatkulah yang jadi saksi, menyimpan rahasia besar yang bersembunyi ditengah bahagia.

Kapten periang tak pernah gentar, tak menampakan derita kala menghadap teman – temannya. Sahabatku belajar darinya, melebur derita menjadi tawa, menutupi kesakitan dan menyulapnya menjadi bahagia. Sayang seribu sayang, kebohongan kelamaan tak bertahan. Perlahan derita memegang kuasa, kapten periang kemudian tiada.

Sahabatku mengambil tugasnya, panglima besar kini menyanggah tiang kapal tua. Satu persatu tragedi terus terjadi, selayaknya banjir mengalir tiada henti.

Ini kisah yang menyayat hati, tentang sahabatku yang berteman sepi.

Diambang kematian mereka bangkit, teringat janji yang terlanjur terucap, pada Laboon tercinta yang menanti di sana. Tone Dial menjadi saksi,] sebuah lagu indah yang menyayat hati, menyuarakan bahagia diambang mati. Piano dan melodi melantun indah. Lagu kesayangan penuh kenangan, bernyanyi bersama seakan baik saja. Samar derita tertutup nada, nada indah bahagia dan riang gembira.

Yohohoho… Yohohoho… Yohohoho… Yohohoho..

Yohohoho… Yohohoho… Yohohoho… Yohohoho..

Binkusu No Sake Wo Todoke Ni Yuku Yo..

Umikase, Kimakase, Namimakase…

Sahabatku terus bernyanyi, melihat satu persatu temannya mati. Nada indah itu kini mulai rancu, kehilangan instrumen satu persatu. Riuh riang terkikis habis, menyisakan 5 pemusik yang meringis.

“Tinggal kita berlima ya.” gumamnya.

“Ah, rupanya berempat.” lanjutnya mencoba bahagia.

“Ah, tinggal kita bertiga,.. berdua…” air mata tak lagi tertahan, mengumpat segala tragedi yang menghampiri. 2 pemusik mencoba menyelesaikan lagunya.

“Moo.. tinggal aku sendiri rupanya. Minna san. Otsukare san Deshita.” lantun melodi kini terdengar sepi. Denting piano terhenti di tengah pekat kabut malam.

Sabahatku tergeletak di sana, terbujur kaku diambang mati, mengumpat takdir yang tak adil, merenggut segalanya dengan kejamnya.

“Kenapa? Kenapa harus begini? Kenapa semua harus terjadi? Siaaaall, aku lemah! Lemah! Lemah! Aku tak berguna, kapten. Maafkan aku. Aku tak bisa lagi mengemban tugasmu. Aku akan ke sana. Jadi tunggu aku.”

Matanya mulai terpejam. Senyum sungging bibirnya yang terakhir, dinginnya hembusan angin malam, mengantarnya terbebas dari derita yang selama ini ia rasakan. Meninggalkan pesan dalam Dial kecil untuk sahabat yang menanti.

Perlahan membuka mata, kehidupan kedua diberikan padanya. Tubuh yang hanya tersisa tulang bangkit berdiri, melihat sekeliling yang berselimut sepi.

“Aaa… rupanya aku hanya bermimpi. Nanti pasti keadaan akan membaik. Aku hanya perlu terbangun dari tidurku.” pikirnya.

“Aaa sial. Mimpi yang sama lagi. Kuharap segera terbangun.” harapnya.

“Aaa…mooo… Ada apa dengan ini semua? Mengapa? Mengapa hanya aku sendiri?” jeritnya dalam pekat malam.

Ini kisah yang menyayat hati, tentang sahabatku yang berteman sepi.

Terbangun di pagi hari, mendengar riuh dek kapal, hilir mudik teman menyapa, senyum kapten yang melambaikan tangan dari anjungan,

“Brook, sedang apa kau di sana? Ayo kemari, kita bernyayi!” ajaknya.

“Aah.. Kapten… baik aku segera kesana.” jawab sahabatku. Langkah pertama memudarkan semua. Langkah kedua perlahan bias suasana. Langkah ketiga menyadarkannya, mereka sudah lama tiada.

Berlari kesana kemari, melompat, dan menari dalam sepi. Menghibur diri dengan bernyanyi, berbicara pada dirinya sendiri, mencoba selalu tertawa menutupi semua.

Yohohohohohohoho.. Yohohohohohohoho…

Setiap pagi menyapa. Yang dilakukan selalu sama. Ketika dia membuka mata, ah dia sudah tak punya. Sayup terdengar derai ombak yang menerpa, ah dia tak punya telinga. Miris menikam dada menghujam jantungnya, ah dia tak punya jantung juga.

Satu persatu tengkorak dikumpulkannya, menjadi teman bicara kala sepi mendera. Terbayang wajah teman dalam lamunan, puluhan tahun sudah ia bertahan. Ingin rasanya ia kembali mati, namun janji yang terikat tak boleh diingkari.

Ini kisah menuju bahagia, dan sahabatku yang kembali meraih asa.

Di sini ia sekarang. Duduk di bawah tiang utama, tertidur pulas ditemani secangkir teh panas. Tidur yang ia benci tak lagi di hati. Lalu lalang teman menyapa bukan lagi mimpi. Lambai tangan kapten dari anjungan bukan lagi khayalan.

Si tak sopan mencari tempat yang nyaman, mencoba melakukan segala yang ia rasa perlu dilakukan. Sedikit ceroboh dan terburu buru. Tak jarang pukulan cinta ia dapat. Tak jarang makian Zoro dan Sanji ia terima. Tapi semua itu yang ia harapkan. Teman sejati yang puluhan tahun ia nanti.

Bagai sebuah metamorfosa, si tak sopan menunjukan tajinya : menjadi yang paling patuh dan setia pada kaptennya. Perintah kapten bagai sebuah titah raja, dilakukan tanpa sedikit keberatan. Seingatku di antara kami semua, hanya dia yang selalu sopan menyapa. Si paling tua dan bijaksana, sedikit genit apa mau dikata.

Alunan biola nan manja menggelitik telinga, menenangkan jiwa dari hidup baru yang siap menyertainya. Teringat janji kepada paus kecil tercinta, menitip asa pada kami semua. Ku dengar indah melodi menggema, ke penjuru kapal membawa ketenangan, menentramkan jiwa milik para petualang.

Kisah ini tentang sahabatku dan bahagia.

Pendekar bersenandung yang setia berusaha mewujudkan mimpi dan menepati janji. Janji yang terucap 50 tahun lamanya, untuk seekor paus kecil yang setia.

Pemusik idaman kapten kami semua, yang selalu ia inginkan sejak pelayaran pertama, kini menjelma menjadi sesosok ramah dengan tulang dan afronya.

“Haaa? Mugiwara No Luffy telah tiada? Bodoh sekali! Dia adalah lelaki yang akan menjadi raja dari lautan. Dan aku selalu percaya dia pasti bisa. Katakanlah! Katakanlah pada dunia, bahwa Mugiwara No Luffy san masih hidup!! Di sini di pulau ini kami berpisah. Dan dari sini pula kami akan memulai semuanya. Luffy san ayo kita pergi! Ke Dunia Baru!”

Alunan nada darinya, semua lagunya yang mendunia, penghargaan indah untuk kaptennya, hanya dia, hanya dia, hanya dia yang bisa melakukannya. Soul King yang dicintai dunia. Pendekar Bersenandung yang menjadi momok Dunia. Si kepala 83 juta, Brook kami tercinta.

Yohohohohohohohoho.. Yohohohohohohoho..

 

Brook by ONE PIECE INDONESIA

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World