Bon Clay

0

Minna,

Aku kembali, dengan kisah luar biasa, tentang teman, tentang sahabat, tentang bunga kasih setia yang menghiasai indahnya kisah yang entah kapan akan berakhir. Seberapa jauh ikatan persahabatan hiasi hidup? Itu semua tergantung rasa yang kalian punya, apakah sama atau tidak, semua bergantung seberapa penting ia untukmu.

Kutulis bait demi bait kisah ini dengan hati yang jauh dari gembira. Enggan sebetulnya kuberkisah tentang ini semua. Hatiku tak cukup besar untuk menampung segala rasa yang terjadi, kala kubaca setiap bagian yang disuguhkan didalam penggalan cerita. Namun akhirnya kulampiaskan semua, dengan kata kata yang sebetulnya tidak bermakna. Entah apa yang terjadi, hari ini terlalu berat untuk dijalani.

Semua bermula kala pulau wanita yang menjadi sorotan utama. Nyonba dan “berita” yang ia baca, juga Momonga yang menunggu dengan setia, serta permaisuri yang mengendurkan hati lalu pergi ikut serta. Ada cinta tersaji di sana. Dan sebuah duka… juga bermula dari sana.

Kapten pergi memaksakan diri, pergi menuju tempat para iblis diisolasi. Penjara kokoh tak tertandingi, momok menakutkan yang juga disebut Neraka Abadi. Demi kakak tercinta yang sejatinya tak ingin dikasihani. Dengan bantuan sang permaisuri, ia berhasil masuk ke sana, lewati penjagaan yang sebetulnya sulit untuk dikelabui.

Dengan serba ketidak tahuan dia berlari ke sana kemari, kemudian mengendap endap seperti seorang pencuri. Yang ia tahu hanya satu, “kakak berada di sini”. Ia baru saja melakukan sesuatu yang mustahil, menodai tempat suci milik sang keadilan, “surga dan kenikmatan tiada tara bagi para pesakitan”, IMPEL DOWN.

Ini adalah kisah tunas pertemanan saat pertama kali ditanam.

Awal pertemuan begitu mengejutkan, ballerina pria dengan suara nyaring ditelinga. “Ah jangan bercanda” kata yang terus ia ulang, tapi tak pernah kami bosan mendengarnya. Berputar – berputar dan berputar, membuat lelucon ringan yang menggelitik kami yang kurang hiburan.

Sosoknya begitu mencolok, dengan angsa di bahunya, dengan bulu mata badainya, juga dengan aksennya yang alami. Pertemuan singkat akibat kabut pekat, ternyata menggiring kami kedalam hubungan yang lebih erat. Persahabatan yang tumbuh diantara dua kubu yang berseteru, antara bajak laut dan organisasi gelap yang berbeda jalan hidup.

Dia sangat menyenangkan, terutama dengan kemampuan luarbiasanya itu. Dia mampu meniru wajah dan tubuh seseorang dan terlebih suaranya pun sama, ASTAGA. Kemampuan yang sangat berbahaya jika dimiliki orang yang salah. Mane mane no mi, buah yang membuatnya menjadi musuh abadi lautan, sepadan dengan kemampuan yang ia dapatkan.

Dengan lambai tangan dia ucap salam perpisahan, pergi berlayar kearah yang bersebrangan. Hati tersentak napas pun sesak, kala krunya menyapa.. “Yes, Mr. 2 Bon Clay Sama”. Dia adalah salah satu musuh terkuat, orang terkuat ke 3 di organisasi yang sedang mengancam negeri putri bijak.

Ada sedikit ganjalan hati kala pertemuan pertama, dia dan wajah Raja yang ditirukannya, juga dia yang sudah menyalin wajah dari kami semua kecuali sang koki mesum pemuja wanita. Ternyata kami bersebrangan, jalan yang kami ambil mengharuskan pertempuran antar teman.

Ini adalah kisah tumbuhnya tunas persahabatan.

Kala perjumpaan selanjutnya, di hulu Sungai Shandora, ia selamatkan kapal kami dari ancaman para keadilan. Dengan dalih persahabatan, ia jadikan kami sebagai jalan pengamanan. Sedikit lega memang, ketika dia mengatakan “Aku tidak tahu kalian kelompok itu. Lagi pula, organisasiku sudah tiada”.

Pagi buta kami berlayar, kami terjebak, keadilan mendekat. Dipimpin kapten cantik dengan baja hitam, kapal kami digempur habis habisan. Namun tahukah kamu apa yang terjadi selanjutnya? Seorang okama yang kami remehkan, seseorang yang selalu mengatakan “teman”, menunjukkan jalan terang ditengah keadaan muram. Dalam carut marut genting keadaan, airmatanya menetes ditengah senyuman dan berkata…

“Mugi chan, pergilah.. selamatkan diri kalian, kami akan menghadang mereka”, saat kami bertanya alasan ia kembali kejutkan kami…

“Inilah yang namanya PERSAHABATAN”…

Persahabatan memang bisa tumbuh dimana saja, aku sangat menyesal karenanya, dia yang kuanggap aneh, mengorbankan diri demi kami. Ia tidak mengucapkan salam perpisahan, karena ia yakin kami akan bertemu kembali, dalam hubungan yang erat dan dekat. Dalam hubungan pertemanan yang paling indah, sebagai sahabat. Di ladeni putri baja, digempur dan akhirnya ditangkap, dengan penuh pengorbanan ia tersenyum gembira meski darah bercucuran dan kapalnya karam ke dasar lautan. Semua ia lakukan atas dasar “Persahabatan”.

Ini adalah kisah pertemuan kembali dengan sahabat di neraka.

Kapten berhasil menembus neraka pesakitan yang terbelenggu lautan. Di sana ia bertemu sosok lama yang menyebalkan, lucu, hangat dan menyenangkan. Sahabat yang berkorban demi petualangan bocah bodoh bertopi jerami dengan mimpi besar yang kelak akan terwujud. Sahabat yang pergi meninggalkan pesan sebuah senyuman, dan dukungan yang tak kan pernah bisa dilupakan.

Di neraka mereka juga bertemu beberapa kawan lama. Sedikit nostalgia, namun hanya dia yang setia, mengawal kaptenku menembus jauh ke dalam neraka. Meski akhirnya goyah dan melarikan diri, ia meninggalkan kaptenku sendiri, melawan manusia racun yang teramat keji. Kapten tak kuasa lagi berdiri, tubuhnya bobrok dilumuri racun mematikan, dia dalam batas kematian.

Ia meninggalkan kaptenku yang terbujur lemah berlumur racun, buah pertempuran dengan kuasa neraka, iblis keadilan dengan racun mengerikannya. Kaptenku yang berjuang bersamanya ia tinggalkan, hanya karena takut akan akhir yang akrab disapa “Kematian”. Namun disinilah indahnya kisah ini, penyesalan memang selalu datang belakangan, namun tak berarti sesal itu abadi, karena masa depan masih bisa diperbaiki.

Ini adalah kisah bunga persahabatan yang telah mekar.

Kesempatan kedua selalu ada, meski sulit… ciptakanlah sendiri! Dalam sesal yang teramat menyesakkan dada, ia mencari dimana kaptenku berada. Meski beberapa teman mengajaknya lari, ia tetap dalam pendiriannya, meski nyawa taruhannya, ia tak akan menyiakan kesempatan kedua, karena “MUGI CHAN ADALAH TEMANKU!”

Dengan susah payah ia mengelabui penjaga, tubuhnya berdarah darah dan terluka cukup parah. Berlari di level lima dengan dingin yang luar biasa. Bertelanjang kaki dan dada, darah yang mengalir keluar mulai membeku. Satu persatu sel ditengoknya, mencari sosok Mugi Chan temannya. Meski tubuhnya sudah tak kuat, tapi ia tetap pada tekad. Persetan dengan dirinya, sahabat yang terluka sedang membutuhkannya.

Bertemulah mereka, dalam kondisi yang jauh dari biasa. Kaptenku terbaring diambang nyawa, bersimbah racun dari kepala penjaga. Air matanya mengalir deras, sesal menikam hatinya. Pikirnya yang kacau sudah menyesatkannya, dan mengutuk dirinya, seakan berkata “Ini adalah salahku”.

Dengan sisa tenaga ia bawa, sosok luffy yang hampir tiada. Melewati dingin salju level lima yang semakin tebal, dan gerombolan serigala putih yang menghadang. Susah payah ia bertarung. “Jangan sentuh Mugi Chan” ia berkata. “Menjauh dari Mugi Chan” teriaknya. Tak sekalipun ia membela dirinya. Semua ini tentang sahabatnya, Mugi Chan yang sedang membutuhkan pertolongannya.

“Mugi Chan bertahanlah.. sedikit lagi, Mugi chan bertahan, sedikit lagi sedikit lagi”, ia berjalan tanpa arah yang jelas. Mencari seorang pembuat keajaiban yang hilang dengan misteri yang tak terpecahkan. Darah bersimbah, tubuhnya melemah, dengan tenaga tersisa ia bertahan. Kapten bangun perlahan, racun itu belum cukup kuat untuk membunuh persahabatan. Dengan mimik menakutkan kapten bangkit, lalu berteriak..

“MENJAUHLAH DARI BON CHAN!”

… seketika serigala tak sadarkan diri, dan keajaibanpun datang.

Matanya terbuka, melihat tempat yang tak biasa, sayup terdengar suara pesta. Diruang itu penuh dengan orang sepertinya, orang yang terjebak dengan 2 hati. Di sana juga ia jumpai, sosok yang ia idolakan, sosok yang selalu ia dambakan, Ivankov sang Keajaiban.

Sadar dengan keadaan, pikirnya tertutup khawatir yang tak berujung. Tentang sahabatnya yang bersimbah racun. Ia berlutut, bersujud memohon, pada keajaiban yang berdiri tepat di depan matanya. Keajaiban menatapnya ia, meski sesekali bercanda. Lega ia rasa kala mendengar sahabat sedang dirawat.

Dalam ruang khusus kaptenku dibelenggu, dirantai, dan dikunci. Umurnya berkurang, peluangnya sangat tipis untuk bertahan. Kaptenku tersiksa, berteriak kesakitan, darahnya keluar dengan deras. Bon Chan berlutut lemas, memohon pada iva untuk segera buat keajaiban. Ia syok dengan keadaan, melihat sahabatnya menderita, karena ia pergi meninggalkan. Kalau saja dia di sana pikirnya, semua ini bisa dihindari.

Ini adalah kisah harumnya bunga persahabatan.

Bon clay berlutut lemas, tubuhnya tak mau digerakan. Butuh 2 hari untuk keajaiban, Kapten berjuang melawan maut yang menantinya tepat di sebrang jalan. Sedang ia sehat mampu bergerak dan makan.

Ia berdiri! Menghadap pintu ruangan penyiksaan Luffy. Kakinya dilebarkan, tangannya dikepalkan. Menarik napas dalam dalam dan berteriak..

“Mugi Chan.. BERTAHAN! Mugi Chan BERTAHAN! Kau pasti bisa MUGI CHAN BERTAHAN”.

Tenggorokannya terluka, berteriak sebagai ganti rasa yang dialami sahabat tercinta. Memang tak sepadan, setidaknya rasa ini tersampaikan. Darah mengalir, berjam jam ia di sana, membuat Iva dan pengikutnya bertanya tanya.

“Mugi Chan.. BERTAHAN! Mugi Chan BERTAHAN! Kau pasti bisa MUGI CHAN BERTAHAN”.

Awalnya semua meremehkannya, namun persahabatan membuatnya bertahan. Merasakan penderitaan yang nyaris sama. Kata kata itu terus diulangnya, membuat semua penasaran dan melihatnya. Ia terjatuh dengan darah di tubuhnya, kemudian bangkit meski gemetar dahysat. Dan kembali berteriak..

“MUGI CHAN BERTAHAN!”

Satu persatu orang terenyuh hatinya, melihat seorang sahabat dengan hati malaikat. Mereka berkumpul di sana, semangati kapten yang bertarung melawan maut yang menjemput.

“Mugi Chan.. BERTAHAN! Mugiwara BERTAHAN! Kau pasti bisa MUGIWARA BOY.. BERTAHAN”.
.
.
.
.
Pembuat keajaiban dibuatnya malu, 2 hari terlalu lama untuk kaptenku. Dia bangkit dan bertahan, Luffy memenangkan pertarungan, dan Bon Chan terkapar kegirangan.

Ini adalah kisah indahnya bunga persahabatan.

Semuanya serba terlambat, kakak tercinta tak lagi di tempat. Dengan sisa waktu ia kejar, kumpulkan kawan dan lawan demi wujudkan harapan. Sayang kakak sudah pergi, dibawa oleh kapal menuju medan eksekusi.

Semua dilanda kebingungan, berlayar dengan tujuan yang tertutup gerbang keadilan. Semua teman bersamanya, hanya satu orang menghilang. Orang yang mendampinginya menembus neraka, sahabat yang pernah berkorban untuknya.

Gerbang ke kebebasan terbuka, keajaiban kembali datang. Luffy bertanya pada kesatria lautan, ia hanya terdiam. Mengingat pesan dari seorang okama “tolong rahasiakan”. Pengorbanannya sangat ia hargai, tapi hatinya tak cukup tega untuk membiarkan sahabatnya tak tahu apa apa.. diberikannya denden mushi itu.

“Bon Chan, apa kau dengar?” dia tak menjawab,

“Oi bon chan, bon chan jawab aku” dia masih terdiam,

“Bon chan… lagi lagi, seperti waktu itu, mengapa? Mengapa bon chan? Jawab!” masih hening tanpa jawaban,

“Oi, Bonchan, mengapa kau selalu saja menyelamatkanku, lagi dan lagi kau selamatkan aku, Bon chaan”,

“Oi.. bonchan…”

Gerbang keadilan terbuka, sial kepala penjaga memergokinya. Kini nyawanya terancam, oleh kejamnya racun Magellan. Ia hanya terdiam mendengar sahabatnya marah, biarlah ia marah yang penting ia bisa keluar dengan aman, pikirnya.

Saat gerbang tertutup perlahan, kaptenku ucapkan salam perpisahan, semua awak kapal menangis, terharu dengan pengorbanan yang luar biasa indahnya. 3x luffy diselamatkan, dan 3x kali juga ia mengorbankan diri… dalam sayup sayup gemuruh meriam, terdengar suara sahabat yang akhirnya menjawab, sebelum sesal datang terlambat.

“MUGI CHAAAAAAAN…. BERJANJILAH! SELAMATKAN KAKAKMU…..” suara terakhir yang Luffy dengar.

Pesan perpisahan yang membuat semua menitikan air mata seraya menyerukan namanya.

“Bonchaaaaan!”

“Ada yang tersesat di jalan seorang pria. Ada yang tersesat dijalan seorang wanita. Tapi tiada yang tersesat di jalan seorang manusia.” ~Bon Clay

 

Bon Clay by ONE PIECE INDONESIA

Share.

About Author

One Piece Indonesia. One Piece World